KEISLAMAN

Benarkah Ada Wali Majdzub?

Yahya Sukamdani| Minggu, 07/12/2025
Kewalian adalah ketaatan, bukan keanehan. Ilustrasi wali majdzub

Terasmuslim.com - Dalam istilah tasawuf, wali majdzub adalah seseorang yang dianggap mencapai maqam kedekatan kepada Allah sehingga kecintaannya kepada Allah menarik (jadzab) seluruh konsentrasinya, dan sebagian bahkan terlihat seperti kehilangan kesadaran duniawi. Namun, konsep ini tidak disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun Hadis. Yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah bahwa wali Allah memiliki dua ciri utama: beriman dan bertakwa. Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa.” (QS. Yunus: 62–63). Ayat ini menegaskan bahwa kewalian sangat jelas kriterianya: iman dan takwa, bukan ketidaksadaran, keanehan, atau tindakan di luar akal.

Rasulullah ﷺ juga tidak pernah mengajarkan konsep wali majdzub yang bertingkah aneh atau tidak sadar dunia. Para sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in yang kualitas iman dan takwanya luar biasa tidak menunjukkan ciri seperti majdzub. Hadis Nabi ﷺ menjelaskan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad). Ini menunjukkan bahwa wali Allah adalah mereka yang beramal nyata, sadar, bertanggung jawab, dan memberi manfaat, bukan orang yang hidup tanpa akal sehat maupun perilaku tak terkendali. Maka sebagian ulama menilai bahwa konsep wali majdzub lebih bersumber dari tradisi tasawuf tertentu, bukan dari dalil syar’i yang kokoh.

Sebagian ulama tasawuf klasik seperti Imam Al-Qusyairi dan Imam Junaid Al-Baghdadi menyebut bahwa majdzub mungkin terjadi sebagai keadaan spiritual pada sebagian orang, tetapi mereka menegaskan bahwa wali yang sempurna adalah wali yang “sah” syariatnya, yakni tetap menjaga shalat, akhlak, adab, serta tidak meninggalkan tanggung jawab hidup. Jika seseorang mengaku wali tetapi meninggalkan syariat, maka itu bukan kewalian melainkan godaan setan atau gangguan jiwa. Imam Junaid bahkan berkata, “Jalan kami ini terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.” Ini menolak anggapan bahwa kewalian ditandai oleh hilangnya kemampuan berfikir rasional.

Karena itu, para ulama Ahlussunnah menegaskan bahwa keberadaan wali majdzub tidak bisa dijadikan ukuran sah kewalian seseorang. Penentu kewalian hanyalah iman, takwa, istiqamah, dan ketaatan syariat. Jika ada orang yang tampak seperti majdzub, maka hal itu bisa disebabkan kondisi psikologis, gangguan kejiwaan, atau hanya persepsi masyarakat. Yang terpenting bagi muslim adalah mengikuti dalil Al-Qur’an dan Hadis: kewalian adalah kedekatan kepada Allah yang dibuktikan dengan amal, bukan kondisi misterius atau perilaku aneh.

TAGS : apakah ada wali majdzub kewalian dalam Islam

Terkini