
Ilustrasi tidur malam hari
Terasmuslim.com - Islam memberikan pedoman lengkap tentang bagaimana seorang muslim harus bersikap ketika mengalami mimpi, baik yang menyenangkan maupun yang menakutkan. Al-Qur’an menggambarkan mimpi sebagai salah satu tanda kebesaran Allah, seperti pada kisah Nabi Ibrahim AS yang diberi wahyu melalui mimpi (QS. As-Shaffat: 102) dan kisah Nabi Yusuf AS yang memiliki mimpi sarat makna (QS. Yusuf: 4). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa mimpi memiliki kedudukan khusus dan harus disikapi dengan adab yang benar.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mimpi terbagi menjadi tiga jenis: mimpi baik dari Allah, mimpi buruk dari setan, dan mimpi yang berasal dari diri sendiri (HR. Muslim). Dari pembagian ini, para ulama kemudian merumuskan adab-adab ketika bermimpi. Jika seseorang mengalami mimpi baik, ia dianjurkan untuk memuji Allah dan gembira. Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi baik, hendaklah ia memuji Allah dan boleh menceritakannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa mimpi baik dapat menjadi kabar gembira dari Allah bagi seorang hamba.
Sebaliknya, jika mengalami mimpi buruk, Islam mengajarkan adab yang sangat jelas. Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian melihat mimpi yang tidak disukai, hendaknya meludah kecil ke kiri tiga kali, berlindung kepada Allah dari setan dan dari keburukan mimpi itu, serta jangan menceritakannya kepada siapa pun.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain, dianjurkan untuk mengubah posisi tidur setelahnya. Ini dilakukan agar gangguan setan tidak berlanjut dan hati kembali tenang.
Adab penting lainnya adalah tidak menafsirkan mimpi secara sembarangan. Para ulama menegaskan bahwa takwil mimpi memiliki dampak, sehingga hanya boleh diserahkan kepada orang yang memiliki ilmu, akhlak baik, dan pemahaman syariat. Nabi SAW juga memperingatkan agar tidak mengada-adakan mimpi yang tidak dialami, karena hal itu termasuk dosa besar. Beliau bersabda, “Siapa yang mengaku bermimpi dengan sesuatu yang tidak dilihatnya, maka ia akan dibebankan mengikat dua butir jelai yang tidak mungkin dapat diikat.” (HR. Bukhari), sebagai bentuk peringatan keras.
Selain itu, seorang muslim hendaknya memperbanyak dzikir sebelum tidur agar dijaga dari mimpi-mimpi buruk. Nabi SAW mengajarkan membaca Ayat Kursi (HR. Bukhari) dan dzikir-dzikir sebelum tidur lainnya sebagai perlindungan dari gangguan setan. Ini menunjukkan bahwa adab mimpi tidak hanya saat bermimpi, tetapi juga dimulai sebelum tidur.
Dengan mengikuti adab-adab ini, seorang muslim dapat menempatkan mimpi secara proporsional menerima yang baik sebagai karunia, menolak yang buruk sebagai gangguan setan, dan menjaga diri dari salah tafsir. Panduan Islam ini memastikan bahwa mimpi menjadi bagian yang menenangkan, bukan yang menakutkan atau menyesatkan.
TAGS : adab mimpi dalam Islam tafsir mimpi