KEISLAMAN

Bolehkah Menceritakan Mimpi kepada Orang Lain?

Yahya Sukamdani| Rabu, 19/11/2025
Islam memberikan aturan jelas tentang mimpi mana yang boleh diceritakan, kepada siapa, dan kapan harus dirahasiakan. Ilustrasi tidur (FOTO: SHUTTERSTOCK)

Terasmuslim.com - Dalam Islam, mimpi bukan sekadar bunga tidur, tetapi bisa menjadi kabar gembira, peringatan, atau refleksi dari kondisi batin seseorang. Al-Qur’an memberi contoh bagaimana mimpi dapat membawa pesan, seperti pada kisah Nabi Yusuf AS yang bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya (QS. Yusuf: 4). Mimpi ini tidak langsung disampaikan kepada banyak orang, tetapi hanya kepada ayahnya yang bijaksana, Nabi Ya‘qub AS. Dari ayat ini, ulama menegaskan bahwa mimpi tidak boleh sembarangan diceritakan kepada orang yang tidak tepat.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mimpi terbagi menjadi tiga: mimpi baik dari Allah, mimpi buruk dari setan, dan mimpi yang berasal dari diri sendiri (HR. Muslim). Mimpi baik dianjurkan untuk disyukuri dan boleh diceritakan. Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang dari kalian melihat mimpi yang baik, maka hendaklah ia memujinya kepada Allah dan boleh menceritakannya.” (HR. Bukhari). Para ulama menafsirkan bahwa mimpi baik sebaiknya hanya diceritakan kepada orang yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi kita, untuk menghindari rasa iri atau salah tafsir.

Sementara itu, mimpi buruk memiliki aturan berbeda. Rasulullah SAW mengingatkan agar mimpi buruk tidak diceritakan kepada siapa pun. Beliau bersabda, “Jika kalian melihat mimpi yang tidak disukai, maka berlindunglah kepada Allah dari keburukannya dan jangan menceritakannya kepada siapa pun, karena mimpi itu tidak akan membahayakan.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa menceritakan mimpi buruk justru bisa memunculkan kekhawatiran berlebihan, fitnah, atau salah tafsir dari pendengarnya.

Islam juga menekankan pentingnya berhati-hati dalam menakwilkan mimpi. Nabi SAW bersabda bahwa takwil mimpi dapat mengikuti penjelasannya, sehingga tidak boleh ditafsirkan oleh orang yang tidak berilmu. Karena itu, jika seseorang merasa mimpi yang dialaminya memiliki makna khusus, ia dianjurkan berkonsultasi dengan ulama yang memahami ilmu tafsir mimpi dan memiliki akhlak yang baik.

Dengan demikian, kaidah menceritakan mimpi dalam Islam sangat jelas: mimpi baik boleh diceritakan kepada orang yang dipercaya, sedangkan mimpi buruk tidak boleh disampaikan kepada siapa pun. Prinsip ini menjaga ketenangan hati, menghindarkan diri dari suudzon, serta menempatkan mimpi dalam posisi yang sesuai dengan tuntunan wahyu dan sunnah.

 
 
TAGS : mimpi menurut Islam adab menceritakan mimpi

Terkini