
Ilustrasi - raudhah atau taman surga (Foto: AI)
Jakarta, Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, surga dan neraka bukan sekadar simbol atau kisah pengantar, melainkan hakikat nyata yang menjadi bagian dari rukun iman.
Keduanya merupakan tempat pembalasan akhir bagi manusia sesuai amal perbuatannya. Oleh karena itu, meremehkan keberadaan surga dan neraka termasuk perbuatan yang berbahaya bagi keimanan seorang muslim.
Al-Qur`an dan hadis Nabi SAW dengan tegas menggambarkan bahwa surga dan neraka adalah ciptaan Allah SWT yang benar adanya, bukan sekadar kiasan. Allah SWT berfirman:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran [3]: 185)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberadaan surga dan neraka adalah realitas akhir kehidupan manusia, dan mengingkari atau meremehkannya sama saja dengan meragukan kebenaran firman Allah SWT.
Para ulama sepakat bahwa mengejek, menertawakan, atau menganggap remeh keberadaan surga dan neraka termasuk dosa besar dan dapat menggoyahkan akidah seseorang.
Dalam kitab Syarh al-Aqidah at-Thahawiyah, dijelaskan bahwa siapa pun yang mengingkari surga dan neraka telah keluar dari lingkaran iman karena keduanya disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat agar setiap muslim berhati-hati dalam berbicara, termasuk saat menyinggung perkara akhirat. Ucapan yang menyepelekan surga dan neraka bisa menjadi bentuk kekufuran jika diucapkan dengan niat mengingkari kebenarannya.
Ada perbedaan antara tidak percaya (kufur) dan meremehkan (istihaanah). Namun keduanya tetap termasuk dosa besar. Orang yang meremehkan keberadaan surga dan neraka mungkin masih mengaku beriman, tetapi sikapnya menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap ajaran agama. Dalam banyak tafsir, perilaku seperti ini digolongkan sebagai tanda kelemahan iman dan penyakit hati.
Allah SWT memperingatkan dalam firman-Nya:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ
“Yang demikian itu karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat.” (QS. An-Nahl [16]: 107)
Ayat ini menegaskan bahwa orang yang menyepelekan urusan akhirat sejatinya lebih mencintai dunia daripada kebenaran yang Allah janjikan di kehidupan abadi kelak.
Dalam Islam, meremehkan surga dan neraka merupakan dosa besar yang bisa mengarah pada kekufuran jika dilakukan dengan niat mengingkari. Surga dan neraka adalah bagian dari iman kepada hari akhir, dan mempercayainya adalah kewajiban setiap muslim.
Sikap yang benar adalah menerima, meyakini, dan merenungi keberadaan keduanya agar lahir rasa takut kepada Allah serta semangat beramal saleh. Karena bagi orang beriman, keyakinan terhadap surga dan neraka bukan hanya soal kepercayaan, tapi juga motivasi untuk hidup lebih taat di dunia.
TAGS : Info Keislaman Surga dan Neraka Kitab Al-Qur`an Rasulullah SAW