KEISLAMAN

Konsep Hidayah, Datang dari Tuhan atau Usaha Manusia?

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Senin, 27/10/2025
Dalam ajaran Islam berkaitan dengan hidayah, yakni petunjuk Allah SWT yang menuntun manusia menuju jalan kebenaran. Ilustrasi - orang yang mendapatkan hidayah (Foto: AI)

Jakarta, Terasmuslim.com - Banyak orang bertanya-tanya, mengapa ada yang mudah menerima kebenaran, sementara yang lain justru menolak meski telah melihat tanda-tandanya?

Dalam ajaran Islam, hal ini berkaitan dengan hidayah, petunjuk Allah SWT yang menuntun manusia menuju jalan kebenaran. Namun, pertanyaannya kemudian muncul: apakah hidayah itu sepenuhnya datang dari Allah, atau juga bisa diusahakan oleh manusia?

Secara bahasa, hidayah berarti petunjuk. Dalam konteks syariat, hidayah adalah bimbingan Allah yang menuntun hati manusia untuk mengenal dan mengikuti kebenaran. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 56:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Baca juga :

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Ayat ini menegaskan bahwa hidayah sejati adalah milik mutlak Allah SWT. Tidak ada manusia, bahkan seorang nabi, yang mampu memberikan hidayah kepada orang lain tanpa izin dan kehendak Allah. Namun demikian, Islam juga menekankan bahwa usaha manusia tetap menjadi bagian dari proses menerima hidayah.

Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang menolak mencari kebenaran atau menutup hatinya dari ilmu. Sebaliknya, mereka yang berusaha mendekat, berdoa, dan membuka diri terhadap nasihat akan dimudahkan jalannya menuju cahaya iman. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 69:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Artinya, meskipun hidayah datang dari Allah, manusia wajib berusaha — dengan memperbanyak doa, mencari ilmu, bergaul dengan orang saleh, dan menjauhi kemaksiatan. Usaha itulah yang menjadi bentuk kesiapan hati untuk menerima petunjuk Ilahi.

Para ulama membagi hidayah menjadi dua bentuk. Pertama, hidayah al-irsyad, yaitu petunjuk berupa ilmu dan nasihat yang disampaikan manusia kepada sesamanya. Kedua, hidayah at-taufiq, yaitu kemampuan untuk menerima dan mengamalkan kebenaran — yang hanya Allah berikan kepada hamba pilihan-Nya.

Dengan demikian, hidayah bukan semata-mata hasil usaha manusia, tetapi juga anugerah Allah SWT. Namun, Allah tidak akan memberi hidayah kepada mereka yang enggan mencarinya. Karena itu, umat Islam diajarkan untuk terus berdoa sebagaimana dalam Surah Al-Fatihah ayat 6:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Doa ini menjadi pengingat bahwa setiap hari, setiap salat, seorang Muslim sejatinya sedang memohon agar Allah menjaga hatinya dalam kebenaran dan tidak memalingkannya setelah diberi petunjuk.

Karena pada akhirnya, hidayah adalah perpaduan antara kasih sayang Allah dan usaha sungguh-sungguh manusia untuk mendekat kepada-Nya.

TAGS : Info Keislaman Konsep Hidayah Allah SWT Usaha Manusia

Terkini