
Ilustrasi foto pemimpin baik buruk
Terasmuslim.com - Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Namun, jika seorang pemimpin bersikap zalim, Islam tidak membenarkan pemberontakan atau kekerasan sebagai jalan utama. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim: “Dengarkan dan taatilah pemimpin kalian, meskipun ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu.” Hadis ini bukan berarti membenarkan kezaliman, tetapi menegaskan pentingnya menjaga stabilitas umat dan menghindari fitnah yang lebih besar akibat kekacauan.
Allah SWT juga berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 59: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” Ketaatan kepada pemimpin menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Ketika pemimpin berbuat zalim atau menyimpang, umat Islam diperintahkan untuk tetap sabar, menasihati dengan cara yang baik, dan berdoa agar Allah memberikan petunjuk kepada mereka.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Ahmad: “Barangsiapa ingin menasihati pemimpin, janganlah ia melakukannya di depan umum, tetapi hendaklah ia memegang tangannya dan berbicara kepadanya secara pribadi. Jika ia menerima, itu baik; jika tidak, maka ia telah menunaikan kewajibannya.” Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan adab dalam menegur pemimpin, yaitu dengan cara yang tidak menimbulkan perpecahan atau kebencian di tengah masyarakat.
Dengan demikian, sikap yang tepat terhadap pemimpin yang zalim adalah tetap menjaga ketaatan dalam hal yang tidak melanggar syariat, bersabar atas kezaliman, menasihati dengan bijak, dan memperbanyak doa agar Allah memperbaiki keadaan umat. Perlawanan fisik atau fitnah hanya akan memperburuk keadaan, sedangkan kesabaran dan doa adalah senjata mukmin yang paling kuat.