
Ilustrasi Kiamat (Foto: kompas)
Terasmuslim.com - Dalam sejarah Islam, disebutkan bahwa salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang pernah bertemu dengan Dajjal adalah Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu. Kisah pertemuan ini diriwayatkan dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Tamim ad-Dari, sebelum memeluk Islam, adalah seorang Nasrani yang melakukan pelayaran bersama rombongan hingga terdampar di sebuah pulau. Di pulau itulah mereka bertemu dengan makhluk besar yang terikat kuat dan menyebut dirinya sebagai Al-Masih ad-Dajjal.
Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membenarkan kisah Tamim ad-Dari. Nabi bersabda di hadapan para sahabat, “Dia (Tamim) telah menceritakan kepadaku sesuatu yang sesuai dengan apa yang telah aku sampaikan kepada kalian tentang Dajjal.” (HR. Muslim no. 2942). Kisah ini menjadi penguat bagi umat Islam tentang keberadaan Dajjal dan menjadi bukti bahwa peringatannya bukan sekadar simbolik, melainkan nyata.
Dalam Al-Qur’an sendiri, Allah telah memperingatkan umat manusia agar waspada terhadap fitnah yang menyesatkan. Meskipun Dajjal tidak disebut secara eksplisit dalam ayat, namun banyak ayat yang menekankan agar manusia berhati-hati terhadap fitnah dan tipu daya setan, sebagaimana dalam Surah Al-An’am ayat 112: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin...” Ayat ini memperkuat pesan bahwa fitnah akhir zaman akan muncul dalam berbagai bentuk, termasuk melalui Dajjal.
Kisah Tamim ad-Dari menjadi pelajaran penting agar umat Islam meningkatkan iman dan ilmu sebagai benteng dari fitnah akhir zaman. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar umatnya membaca sepuluh ayat pertama atau terakhir dari Surah Al-Kahfi sebagai perlindungan dari Dajjal. Ini menunjukkan bahwa iman yang kuat, ilmu, dan amal saleh adalah senjata utama menghadapi segala bentuk tipu daya, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.