
Ilustrasi foto belajar ilmu astrologi
Terasmuslim.com - Dalam Islam, ilmu nujum atau astrologi yang dikaitkan dengan ramalan nasib dan peruntungan hidup berdasarkan peredaran bintang termasuk hal yang dilarang. Allah ﷻ berfirman: “Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut” (QS. Al-An’am: 97). Ayat ini menegaskan bahwa fungsi bintang hanyalah sebagai tanda arah dan keindahan langit, bukan untuk meramal masa depan manusia.
Rasulullah ﷺ dengan tegas memperingatkan bahaya mempercayai ilmu nujum. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan: “Barang siapa mempelajari sebagian ilmu nujum, maka ia telah mempelajari cabang dari sihir...” Hadis ini menunjukkan bahwa astrologi yang dipakai untuk meramal nasib termasuk dalam perbuatan tercela dan bisa mendekatkan pada kesyirikan. Hal ini karena hanya Allah ﷻ yang mengetahui perkara gaib, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Luqman: 34.
Namun, para ulama membedakan antara astrologi yang berhubungan dengan ramalan nasib dan ilmu astronomi yang dipakai untuk membaca peredaran bintang dalam kepentingan ilmiah, seperti menentukan arah kiblat, waktu shalat, atau navigasi. Yang pertama jelas haram, sementara yang kedua justru dianjurkan karena membantu ibadah. Dengan demikian, Islam melarang keras mempercayai astrologi sebagai penentu takdir, sebab takdir sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah ﷻ.