
Ilustrasi banyak harta tapi tersiksa
Terasmuslim.com - Kekayaan sering kali dipandang sebagai simbol kebahagiaan dan kesuksesan. Namun, tidak jarang orang yang memiliki harta melimpah justru merasa tersiksa dalam hidupnya. Dalam pandangan Islam, hal ini dapat terjadi karena harta bukanlah jaminan kebahagiaan, melainkan ujian yang harus dipertanggungjawabkan. Allah ﷻ berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 28, bahwa harta dan anak hanyalah cobaan, dan pahala besar ada di sisi Allah.
Seorang muslim diajarkan bahwa kekayaan adalah amanah. Jika digunakan dengan benar—untuk nafkah keluarga, membantu sesama, dan menegakkan kebaikan maka harta akan menjadi ladang pahala. Namun, jika harta hanya menimbulkan kesombongan, ketamakan, dan melalaikan dari ibadah, maka ia justru bisa menjadi sumber kesengsaraan. Tidak sedikit orang kaya yang hidupnya gelisah, takut kehilangan harta, hingga terjebak dalam gaya hidup berlebihan yang tidak membawa ketenangan.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa bukanlah kekayaan itu diukur dari banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, orang yang berharta namun tidak memiliki ketenangan batin dan selalu dikuasai rasa takut, iri, atau tamak, sejatinya sedang miskin dalam hatinya.
Dalam Islam, cara agar harta tidak menjadi sumber siksaan adalah dengan memperbanyak syukur, menunaikan zakat, bersedekah, dan menjauhi sifat kikir. Harta yang digunakan di jalan Allah akan membersihkan jiwa, melapangkan rezeki, dan menghadirkan ketenangan. Sebaliknya, harta yang disalahgunakan hanya akan membawa penyesalan, baik di dunia maupun di akhirat.
Kekayaan yang sejati adalah ketika harta di tangan, bukan di hati. Orang yang mampu mengendalikan hartanya dengan syariat Islam akan merasakan nikmat kebahagiaan, sementara yang diperbudak oleh harta akan terus merasa tersiksa, meski bergelimang kemewahan.