
Ilustrasi berdoa khawatir dengan masa depan
Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, kebahagiaan hati bukan hanya ditentukan oleh kondisi luar, tetapi juga sikap batin seseorang. Sejumlah nasihat ulama bahkan mengingatkan adanya enam golongan yang sulit lepas dari kesedihan selama hidupnya, jika tidak mengubah sikap dan perilaku.
Pertama, orang yang tamak terhadap dunia. Sikap serakah membuat hati tak pernah puas. Sebanyak apapun harta dan kedudukan yang dimiliki, rasa kurang akan terus menghantui. Al-Qur’an menegaskan, sifat tamak sejatinya merugikan diri sendiri (QS. Muhammad: 38).
Kedua, orang yang dengki terhadap nikmat orang lain. Dengki atau hasad membuat hati terbakar ketika melihat kebahagiaan orang lain. Rasulullah ﷺ melarang umatnya saling mendengki karena akan merusak persaudaraan (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, orang yang tidak ridha dengan takdir Allah. Sikap ini memicu kegelisahan dan keluh kesah yang tiada henti. Padahal, bisa jadi sesuatu yang dibenci justru membawa kebaikan (QS. Al-Baqarah: 216).
Keempat, orang yang terus mengungkit kesalahan masa lalu. Terjebak pada penyesalan tanpa perbaikan membuat hati tertekan. Nabi ﷺ menegaskan bahwa setiap manusia pasti berbuat salah, namun yang terbaik adalah yang bertaubat (HR. Tirmidzi).
Kelima, orang yang bergaul dengan teman buruk. Lingkungan pertemanan yang negatif dapat memengaruhi perilaku dan suasana hati. Dalam hadits, teman buruk diibaratkan seperti pandai besi yang bau asapnya akan menempel meski kita tak terkena percikan api (HR. Bukhari dan Muslim).
Keenam, orang yang lalai dari mengingat Allah. Hati yang kosong dari zikir mudah dirasuki keresahan. Allah berfirman, “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan hati erat kaitannya dengan kondisi iman dan amal. Perubahan sikap dapat menjadi kunci untuk melepaskan diri dari lingkaran kesedihan yang berkepanjangan.
TAGS : Hati Islam sikap sedih