
Ilustrasi bulan Safar
Terasmuslim.com - Bulan Safar bukan sekadar penanda waktu dalam kalender Hijriah. Ia menyimpan jejak-jejak sejarah yang penuh makna bagi umat Islam. Sebagai bulan kedua dalam tahun Islam, Safar menjadi saksi berbagai peristiwa penting yang membentuk arah perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW dan perkembangan umat Muslim.
Pada tahun 1447 Hijriah, umat Islam di Indonesia memasuki bulan Safar mulai 26 Juli 2025 hingga 24 Agustus 2025 berdasarkan versi Kementerian Agama RI, atau hingga 23 Agustus 2025 menurut Hisab Hakiki Global Terpadu (HHGT) Muhammadiyah.
Berikut tujuh peristiwa penting yang terjadi di bulan Safaryang dikutip dari berbagai sumber. Kisah-kisah ini bukan hanya bagian dari sejarah, tapi juga sumber inspirasi dan pelajaran hidup lintas zaman.
Di bulan Safar, berlangsung salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam kehidupan Rasulullah: pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah al-Kubra. Saat itu, Nabi berusia 25 tahun, dan belum menerima wahyu kenabian. Khadijah—seorang janda kaya dan pengusaha sukses—melamar Nabi karena kagum atas kejujurannya.
Dari pernikahan ini lahirlah Fatimah Az-Zahra, putri yang menjadi penerus garis keturunan Rasulullah. Lebih dari sekadar pasangan, Khadijah adalah pendukung pertama dan terkuat dalam masa awal dakwah yang penuh tantangan.
Menjelang wafatnya di tahun ke-11 Hijriah, Rasulullah menunjuk Usamah bin Zaid sebagai komandan ekspedisi militer ke wilayah Romawi. Usamah baru berusia sekitar 18 tahun saat itu, namun Rasulullah mempercayainya memimpin pasukan besar, menggantikan ayahnya, Zaid bin Haritsah, yang gugur dalam Perang Mu’tah.
Penunjukan ini mengajarkan bahwa Islam menilai kapasitas dan ketakwaan, bukan usia atau status sosial. Walau ekspedisi ini tertunda karena wafatnya Nabi, keputusan ini tetap menjadi simbol keadilan dalam kepemimpinan Islam.
Perang Abwa adalah ekspedisi militer pertama dalam sejarah Islam, dan berlangsung di bulan Safar. Meskipun tidak terjadi bentrokan besar, ekspedisi ini merupakan inisiatif pertama Rasulullah dalam membentuk pertahanan umat Islam dari ancaman Quraisy yang terus meningkat.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam tak hanya bicara damai, tapi juga siap membela diri saat dihadapkan pada bahaya.
Pada bulan Safar tahun ke-7 Hijriah, umat Islam mencatat kemenangan besar dalam Penaklukan Khaibar, sebuah benteng kuat kaum Yahudi yang dikenal sering mengkhianati perjanjian damai.
Dengan kekuatan pasukan sekitar 1.400 hingga 1.600 orang—mayoritas peserta Umrah Hudaibiyah yang tertunda—umat Islam berhasil menaklukkan wilayah ini. Hasilnya bukan hanya kemenangan militer, tapi juga penguatan ekonomi melalui rampasan perang dan akses terhadap sumber daya pertanian.
Meskipun Rasulullah wafat di bulan Rabiul Awal, berbagai riwayat menyebutkan bahwa gejala sakit beliau dimulai di akhir bulan Safar sepulang dari pemakaman para syuhada di Baqi’.
Fase ini menjadi awal dari transisi besar dalam kepemimpinan umat Islam, serta momen kontemplatif yang penuh hikmah: tentang keikhlasan, persiapan menghadapi kematian, dan pentingnya merancang suksesi dengan matang.
Bulan Safar juga menjadi saksi dua tragedi yang mengguncang hati umat Islam: Bi’r Ma’unah dan Al-Raji’.
Pada Bi’r Ma’unah, 70 sahabat ahli Qur’an yang dikirim untuk berdakwah di Najd dibantai secara kejam oleh Bani Amir dan Bani Sulaim. Tak lama kemudian, tiga sahabat lainnya tewas dalam peristiwa Al-Raji’ ketika mereka dikhianati oleh orang-orang yang pura-pura meminta pengajaran agama.
Kedua tragedi ini menggambarkan tingginya risiko dakwah pada masa awal Islam, serta keberanian luar biasa para sahabat yang tetap teguh meski menghadapi maut.
Di bulan Safar, Abu Bakar As-Siddiq mulai mempersiapkan hijrah ke Madinah untuk menemani Rasulullah. Meski sempat dicegah keluarganya, Abu Bakar tetap menanti perintah Nabi. Dialah satu-satunya orang yang diizinkan menemani Rasulullah dalam perjalanan hijrah yang sarat risiko.
Hijrah ini menjadi simbol persahabatan sejati, kepercayaan mutlak, dan keberanian dalam menghadapi bahaya demi Islam.
TAGS : Peristiwa Bersejarah Bulan Safar Sejarah Islam safar