KEISLAMAN

Benarkah Ada Sholat Asyura? Ini Penjelasan Buya Yahya

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Kamis, 10/07/2025
Adakah sholat khusus Asyura? ini penjelasan dari Buya Yahya Buya Yahya (Foto: liputan6)

Jakarta, Terasmulim.com - Memasuki bulan Muharam, gairah umat Islam dalam beribadah biasanya meningkat tajam. Banyak yang memanfaatkan momen awal tahun Hijriah ini untuk memperbanyak amal saleh sebagai bentuk cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bulan Muharam sendiri bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Islam. Ia termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah, di mana pahala kebaikan dilipatgandakan dan larangan berbuat maksiat lebih ditekankan.

Karena itu pula, Muharam sering dijuluki sebagai Syahrullah atau Bulan Allah — sebuah sebutan yang menandakan keistimewaannya.

Salah satu hari yang paling menonjol di bulan ini adalah tanggal 10 Muharam, yang dikenal sebagai Hari Asyura. Hari tersebut dipandang memiliki nilai spiritual tinggi, bahkan dikaitkan dengan sejumlah peristiwa besar dalam sejarah para nabi.

Baca juga :

Namun, belakangan muncul praktik yang disebut “sholat Asyura”. Apakah ibadah tersebut memang ada dalam ajaran Islam?

Menanggapi pertanyaan ini, ulama karismatik KH Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya angkat bicara. Dalam sebuah video ceramah di kanal YouTube @albahjah-tv, beliau menegaskan bahwa tidak ada salat sunnah khusus bernama sholat Asyura dalam syariat Islam.

“Gak ada sholat Asyura,” ujar Buya Yahya, seraya menjelaskan bahwa tidak ditemukan dalil sahih yang menunjukkan Rasulullah SAW pernah menganjurkan atau mencontohkan ibadah dengan nama tersebut.

Beliau menjelaskan, jika seorang Muslim ingin menunaikan salat sunnah pada hari Asyura, tentu dibolehkan — selama itu merupakan bagian dari salat sunnah umum seperti salat duha, tahajud, rawatib, atau salat sunnah mutlak.

Namun, memberi nama baru seperti "sholat Asyura" tanpa dasar yang jelas bisa menyesatkan pemahaman.

Hal yang sama berlaku untuk istigfar Asyura. Menurut Buya Yahya, tidak ada bacaan istigfar khusus yang diajarkan Rasulullah untuk tanggal 10 Muharam.

Akan tetapi memperbanyak istigfar pada hari itu tetap merupakan amalan yang baik, hanya saja tidak perlu disematkan label khusus yang tidak berasal dari syariat.

Buya Yahya pun mengingatkan agar umat Islam lebih berhati-hati dalam memberikan nama atau mengaitkan ritual tertentu dengan hari-hari tertentu tanpa landasan yang kuat dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Beliau menekankan, kebiasaan memberi label pada ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi bisa termasuk dalam bentuk bid’ah, yakni membuat ibadah baru yang dianggap seolah-olah bagian dari agama.

Sebagai contoh, seseorang yang bersedekah pada hari Asyura tentu melakukan hal yang baik. Tapi jika sedekah itu diberi nama “sedekah Asyura”, maka itu bisa menimbulkan kesalahpahaman seakan Nabi pernah mencontohkannya.

Intinya, amal saleh tetap dianjurkan kapan saja, termasuk di hari Asyura, namun umat Islam diimbau untuk tidak membuat istilah-istilah baru yang tidak memiliki landasan dalam ajaran Nabi Muhammad SAW.

Penjelasan Buya Yahya ini menjadi pengingat penting agar umat lebih selektif dalam mengamalkan ibadah, dan selalu merujuk pada tuntunan syariat yang jelas agar tidak tergelincir dalam praktik yang menyimpang.

TAGS : Bulan Muharram Asyura Sholat Islam

Terkini