
Ilustrasi foto bulan Muharram
Terasmuslim.com - Bulan Muharram, pembuka tahun dalam kalender Hijriah, bukan sekadar awal penanggalan Islam. Ia merupakan salah satu dari empat asyhurul hurum (bulan-bulan haram) yang dimuliakan Allah SWT. Dalam QS. At-Taubah ayat 36, Allah menegaskan bahwa dari dua belas bulan yang ditetapkan sejak penciptaan langit dan bumi, terdapat empat bulan haram: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Bulan Muharram, yang disebut sebagai Syahrullah (bulan Allah), mengandung peluang spiritual luar biasa. Larangan berperang di bulan ini menjadi simbol perintah untuk menjaga perdamaian lahir dan batin. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, keutamaan bulan ini menjadi panggilan untuk memperbanyak amal saleh dan meninggalkan maksiat.
Dalam QS. Al-Baqarah: 194 dan QS. Al-Maidah: 2, Allah melarang agresi dan kekerasan di bulan haram, kecuali untuk membela diri. Larangan ini mencerminkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian, terutama di waktu-waktu suci seperti Muharram.
Hijrah Rasulullah SAW menjadi titik mula perhitungan kalender Hijriyah. Ini menandakan semangat transisi, hijrah dari kejahilan menuju ketaatan. Muharram pun menjadi waktu yang sangat tepat untuk melakukan muhasabah dan membuat resolusi keagamaan pribadi.
Tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura adalah hari bersejarah. Pada hari ini, menurut berbagai riwayat, terjadi banyak peristiwa penting: keselamatan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Firaun, taubat Nabi Adam diterima, serta pengampunan untuk umat yang bertaubat.
Puasa pada 9 dan 10 Muharram (Tasu’a dan Asyura) merupakan sunnah yang sangat ditekankan. Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Untuk menyelisihi kaum Yahudi yang juga berpuasa pada 10 Muharram, Nabi menyarankan untuk menambahkan puasa pada 9 Muharram.
Pada malam atau hari Asyura, sangat dianjurkan membaca Doa Asyura yang penuh makna pujian dan permohonan perlindungan:
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرِ. سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ
“Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Maha Suci Allah sepenuh timbangan (amal), seluas ilmu-Nya, sebanyak keridhaan-Nya, dan setimbang Arsy-Nya.”
Doa ini dapat dibaca sebanyak 7 hingga 70 kali setelah Salat Maghrib.
Shalat empat rakaat ini disertai dengan 300 kali bacaan tasbih:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْم
Shalat ini sangat dianjurkan di malam-malam mulia, termasuk malam Asyura.
10 Muharram juga dikenal luas sebagai Hari Anak Yatim. Rasulullah SAW bersabda:
“Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan seperti ini di surga.” (HR. Bukhari)
Mengusap kepala mereka, memberikan santunan, dan menghadirkan kebahagiaan pada anak-anak yatim adalah perbuatan yang sangat mulia.
Hari Asyura adalah waktu yang tepat untuk menyucikan hati melalui dzikir. Beberapa dzikir yang dianjurkan antara lain:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ – 100 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ – 100 kali
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ – hingga 450 kali
Dzikir ini diyakini sebagai pelindung dari keburukan dan sebagai bentuk koneksi spiritual dengan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”
(HR. Tirmidzi)
Menghidangkan makanan untuk mereka yang berbuka puasa di Hari Asyura termasuk amal yang sangat dianjurkan.
Hadis dari HR. Al-Baihaqi menyebutkan bahwa meluaskan nafkah kepada keluarga pada hari Asyura akan dibalas dengan keluasan rezeki sepanjang tahun. Momentum ini mengajarkan pentingnya berbagi, bahkan di lingkungan terdekat.
Hari Asyura adalah waktu yang sangat baik untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Membaca surah Al-Ikhlas hingga 1000 kali merupakan salah satu amalan yang disebut oleh ulama salaf. Salat sunnah seperti Dhuha dan Tahajud sangat dianjurkan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Hari Asyura menjadi momentum ideal untuk taubat nasuha. Sebagaimana Allah menerima taubat Nabi Adam AS pada hari ini, kita pun diajak untuk kembali kepada-Nya dengan penuh penyesalan dan tekad memperbaiki diri.
Dengan demikian, bulan Muharram, terutama hari Asyura merupakan kesempatan langka untuk meraih ampunan, keberkahan, dan kedekatan spiritual kepada Allah. Dari puasa, sedekah, shalat sunnah, hingga perhatian kepada anak yatim — semua amalan ini adalah jembatan menuju keridhaan-Nya.
Dengan menjalani Muharram secara sadar dan penuh makna, kita tidak hanya membuka tahun Hijriah dengan baik, tetapi juga membuka lembaran baru yang lebih spiritual, penuh rahmat, dan berkah sepanjang tahun.
"Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS Al-Baqarah: 194) (*)
Wallohu`alam
TAGS : keutamaan bulan Muharram Amalan muharram Hari Asyura