SOSOK

Mengenal Supreme Leader dari Negeri Para Mullah

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Selasa, 17/06/2025
Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei adalah sosok sentral dalam politik dan ideologi Republik Islam Iran. Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei (Foto: ATP)

Jakarta, Terasmuslim.com - Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei adalah sosok sentral dalam politik dan ideologi Republik Islam Iran. Sejak tahun 1989, ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) Iran, posisi tertinggi dalam struktur pemerintahan negara tersebut yang memberikan kewenangan luas dalam bidang militer, keagamaan, yudikatif, dan kebijakan luar negeri.

Lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad, Iran, Ali Khamenei berasal dari keluarga ulama Syiah yang terpandang. Ia menempuh pendidikan agama di hawzah (pesantren) di kota kelahirannya, sebelum melanjutkan studi ke kota suci Qom pusat keilmuan Syiah terbesar di Iran.

Di sana, Khamenei belajar di bawah bimbingan ulama-ulama besar, termasuk Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang kelak menjadi pendiri Republik Islam Iran.

Khamenei aktif dalam gerakan menentang pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1960-an hingga 1970-an. Ia mengalami beberapa kali penangkapan dan pembuangan akibat aktivitas politiknya yang dianggap subversif oleh rezim Shah.

Baca juga :

Setelah keberhasilan Revolusi Islam pada 1979 yang menggulingkan monarki Pahlavi dan mendirikan sistem pemerintahan Islam, Khamenei segera mendapat kepercayaan tinggi dari Ayatollah Khomeini. Ia diangkat menjadi anggota Dewan Revolusi dan tak lama kemudian ditunjuk sebagai Imam Salat Jumat Teheran, sebuah posisi simbolis yang menunjukkan kekuasaan dan otoritas moral.

Pada tahun 1981, Khamenei selamat dari percobaan pembunuhan yang melukai lengan dan pita suaranya secara permanen. Di tahun yang sama, ia terpilih menjadi Presiden Iran dan menjabat selama dua periode hingga 1989.

Selama kepemimpinannya, ia bekerja erat dengan Perdana Menteri Mir-Hossein Mousavi, terutama dalam menghadapi dampak perang Iran-Irak (1980–1988).

Ketika Ayatollah Khomeini wafat pada 1989, Majelis Ahli (Assembly of Experts) menunjuk Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, meski saat itu ia belum mencapai derajat marja’ (otoritas keagamaan tertinggi dalam Syiah).

Penunjukan ini menandai awal babak baru dalam politik Iran, dengan Khamenei sebagai pemegang tampuk kekuasaan tertinggi negara.

Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memiliki kekuasaan atas Garda Revolusi (IRGC), angkatan bersenjata, lembaga peradilan, media nasional, serta dapat mengangkat kepala kehakiman dan mengesahkan kebijakan strategis nasional. Ia juga menjadi penentu arah politik luar negeri Iran, termasuk hubungan dengan Amerika Serikat, konflik di Suriah, serta isu nuklir Iran.

Khamenei dikenal sebagai sosok konservatif yang sangat menekankan kedaulatan nasional, anti-hegemoni Barat, dan perlunya menjaga “nilai-nilai revolusioner”.

Ia juga secara konsisten menentang normalisasi hubungan dengan Israel, serta mendukung kelompok-kelompok perlawanan seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina.

Namun, di dalam negeri, kepemimpinan Khamenei tidak luput dari kritik. Banyak pihak menilai kekuasaan yang sangat terpusat pada satu figur memicu represi terhadap oposisi politik dan pembatasan terhadap kebebasan sipil.

Beberapa gelombang unjuk rasa yang terjadi dalam dua dekade terakhir, baik terkait isu ekonomi, sosial, maupun politik mengarah pada ketidakpuasan terhadap sistem pemerintahan yang sangat sentralistik.

Meskipun sosoknya sangat kuat dan berpengaruh, Khamenei jarang tampil dalam wawancara terbuka. Ia lebih sering berkomunikasi melalui pidato resmi, tulisan, dan pernyataan publik yang disiarkan oleh media pemerintah.

Melalui pidato-pidatonya, ia menegaskan pentingnya melindungi Iran dari "invasi budaya Barat", memperkuat ketahanan dalam negeri, serta menjaga prinsip Islam sebagai fondasi utama negara.

Warisan Khamenei kemungkinan besar akan membentuk arah Iran untuk dekade-dekade mendatang, baik dalam aspek ideologi, militer, maupun diplomasi.

Di tengah ketidakpastian global dan tantangan internal, peran Pemimpin Tertinggi Iran tetap menjadi poros utama dalam menjaga stabilitas dan arah Republik Islam.

TAGS : Ali Khamenei Iran Israel Politik Timur Tengah

Terkini