KEISLAMAN

Amalan di Hari Tasyrik, Tiga Hari yang Penuh Syukur Setelah Iduladha

Yahya Sukamdani| Minggu, 08/06/2025
Hari Tasyrik adalah penutup agung dari rentetan ibadah Dzulhijjah. Ilustrasi hari Tasyrik (Foto: Ist)

Jakarta, Terasmuslim.com - Setelah takbir menggema di Hari Raya Iduladha, umat Islam sebenarnya belum selesai merayakan hari-hari besar dalam bulan Dzulhijjah. Tiga hari berikutnya, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah, dikenal sebagai Hari Tasyrik hari-hari yang sering kali terlupakan, tapi justru sangat dicintai oleh Allah.

Tak seperti hari biasa, Hari Tasyrik punya suasana yang khas: daging kurban yang masih hangat di meja makan, zikir yang menggema usai salat, dan suasana spiritual yang tetap terasa di tengah kesibukan pasca-Iduladha. Tapi apa saja yang sebenarnya dianjurkan untuk dilakukan selama tiga hari ini?

Hari zikir dan syukur

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca juga :

“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan mengingat Allah.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menjadi landasan utama bahwa Hari Tasyrik adalah waktu untuk bersantai, menikmati rezeki, dan memperbanyak zikir. Tak ada puasa di hari-hari ini. Justru, umat Islam didorong untuk bersyukur atas nikmat yang Allah limpahkan.

Takbir usai salat? masih dianjurkan!

Meskipun gema takbir Iduladha mulai mereda, takbir muqayyad yaitu takbir yang dibaca setiap selesai salat wajib masih sangat dianjurkan hingga Ashar tanggal 13 Zulhijjah. Kalimat yang dibaca:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Suara takbir ini menjadi pengingat bahwa ibadah belum berakhir, dan zikir tetap menjadi bagian utama dalam kehidupan seorang Muslim.

Waktu kurban masih terbuka

Bagi mereka yang belum sempat menyembelih hewan kurban pada 10 Zulhijjah, Hari Tasyrik masih membuka kesempatan. Penyembelihan kurban bisa dilakukan hingga matahari terbenam di tanggal 13 Zulhijjah.

Ini menjadi kabar gembira bagi banyak orang yang baru mendapat rezeki atau belum menemukan hewan kurban yang sesuai di hari raya.

Berbagi dan bersedekah

Hari Tasyrik adalah momen ideal untuk memperluas kebaikan. Daging kurban yang masih tersedia bisa dibagikan kepada tetangga, saudara, dan mereka yang membutuhkan. Selain mempererat hubungan sosial, amalan ini juga menjadi bentuk nyata rasa syukur atas nikmat yang diterima.

Bagi jamaah haji, hari yang sibuk dan sakral

Di Mina, Hari Tasyrik justru menjadi hari yang padat bagi para jamaah haji. Mereka melontar tiga jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah) setiap hari. Sebagian memilih pulang di tanggal 12 Zulhijjah (nafar awal), dan sebagian lagi bertahan hingga 13 Zulhijjah (nafar tsani).

Bagi mereka, Hari Tasyrik adalah bagian penting dalam menyempurnakan manasik haji.

Momen untuk berdoa dan introspeksi

Tak hanya soal makan dan berbagi, Hari Tasyrik juga waktu yang tepat untuk muhasabah diri. Setelah rangkaian ibadah sejak awal Dzulhijjah, inilah waktunya merenung, memperbaiki niat, dan menguatkan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Hari Tasyrik adalah penutup agung dari rentetan ibadah Dzulhijjah. Ia bukan hanya soal daging yang dibakar atau santapan yang lezat, tapi tentang menghargai kehidupan dengan dzikir, syukur, dan kebersamaan. Maka jangan biarkan hari-hari mulia ini berlalu begitu saja tanpa makna.

TAGS : Amalan hari tasyrik Iduladha

Terkini