KEISLAMAN

Perlukah Mursyid dalam Bertasawuf? Ini Penjelasannya

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Minggu, 25/05/2025
kisah-kisah di zaman Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa bimbingan ruhani sangat penting dalam perjalanan tasawuf. Ilustasi (Foto:era)

Terasmuslim.com - Dalam perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah SWT, banyak umat Islam bertanya: apakah bertasawuf atau menjalani kehidupan sufistik harus selalu dipandu oleh seorang mursyid? Pertanyaan ini sejatinya telah dijawab secara halus oleh sejarah Islam itu sendiri, khususnya dari kisah-kisah yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW.

Di zaman Rasulullah, para sahabat yang ingin menekuni kehidupan ruhani selalu merujuk langsung kepada beliau. Nabi bukan hanya guru syariat, tetapi juga mursyid agung yang membimbing hati dan jiwa umat. Dalam setiap pengajaran, Rasulullah tidak sekadar memberi hukum, tetapi juga menanamkan keikhlasan, kesabaran, dan pengosongan diri dari hawa nafsu, inti dari ajaran tasawuf.

Salah satu kisah yang menggambarkan peran Nabi sebagai mursyid ruhani adalah peristiwa yang dialami oleh Abu Dzar al-Ghifari. Ia datang kepada Rasulullah dengan penuh semangat ingin memeluk Islam, namun juga dengan jiwa yang keras dan terburu-buru. Rasulullah tidak serta-merta memberinya tugas besar, tetapi membimbingnya secara perlahan agar jiwanya matang.

"Jangan menjadi pemimpin sebelum engkau cukup kuat," pesan Nabi kepada Abu Dzar. Kalimat itu bukan sekadar nasihat administratif, tapi bentuk pembinaan spiritual agar Abu Dzar menyadari bahwa kepemimpinan ruhani membutuhkan pengendalian nafsu, yang hanya bisa diperoleh melalui bimbingan mursyid sejati.

Baca juga :

Demikian pula dengan kisah Salman al-Farisi, seorang pencari kebenaran yang mengembara dari satu guru ke guru lain. Ia mencari mursyid yang lurus hingga akhirnya menemukan Rasulullah SAW. Perjalanan panjang Salman menunjukkan bahwa mencari pembimbing ruhani adalah bagian dari perjalanan suci menuju Tuhan.

Dalam konteks ini, Nabi Muhammad SAW bukan hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga menghidupkan jiwa para sahabat agar terhubung dengan Allah. Rasulullah mengajarkan dzikir, doa, dan adab hati—ciri khas ajaran tasawuf. Bahkan ketika para sahabat meminta izin untuk hidup zuhud secara ekstrem, Nabi justru mengarahkan mereka pada jalan tengah: tidak menolak dunia, tetapi juga tidak larut di dalamnya.

Setelah wafatnya Rasulullah, peran mursyid ini diteruskan oleh para ulama, ahli zikir, dan guru-guru tarekat. Mereka bukan pengganti Nabi dalam hal kenabian, tetapi mewarisi metode pembinaan ruhani, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya.

Meskipun demikian, sejarah juga mencatat bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan bertemu mursyid sejati. Dalam kondisi seperti itu, para ulama menekankan pentingnya berguru kepada ilmu—yakni Al-Qur’an dan hadits—serta memperbanyak dzikir dan amal salih. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis bahwa bimbingan ruhani sangat dianjurkan, tetapi bila tidak ditemukan mursyid yang lurus, maka hendaklah seseorang terus memperbaiki diri dengan menjaga amal, hati, dan niatnya.

Sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat, kehadiran mursyid dapat mempercepat pencerahan ruhani. Namun esensi bertasawuf tidak terletak pada ketokohan mursyid semata, melainkan pada kesungguhan hati dalam mendekat kepada Allah, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi dalam kehidupan sehari-hari: makan dengan rendah hati, menangis dalam doa malam, dan berzikir dalam setiap keadaan.

TAGS : Tasawuf Mursyid Rasulullah SAW Islam

Terkini