
Ilustrasi kota dimurkai Allah
Terasmuslim.com - Dalam lembaran sejarah spiritual umat manusia, tercatat sejumlah kota dan kaum yang bukan hanya dikenal karena kemakmuran atau kejayaannya, tetapi justru dikenang karena kehancurannya. Bukan karena perang atau bencana alam semata, tetapi karena azab dari langit—akibat kedurhakaan mereka kepada Allah dan para nabi yang diutus kepada mereka. Al-Qur`an mencatat kisah-kisah ini bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan sebagai pelajaran abadi bagi generasi mendatang.
Beberapa kota besar yang pernah berdiri megah di tanah Arab dan sekitarnya kini hanya tersisa reruntuhan. Sodom, `Ad, Tsamud, hingga Mesir Kuno, semuanya menjadi saksi bahwa kemurkaan Tuhan bisa menimpa kapan saja jika manusia melampaui batas. Mereka bukan orang awam, tetapi kaum yang diberi peringatan langsung melalui nabi pilihan, namun mereka memilih menolak dan menyombongkan diri.
Melalui kisah-kisah ini, manusia diajak merenung: bahwa kehancuran bukan hanya karena bencana fisik, tetapi juga karena bencana moral yang merajalela. Berikut enam kota dan kaum yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai dimurkai oleh Allah karena dosa kolektif yang mereka lakukan.
Terletak di sekitar wilayah Laut Mati, Sodom dan Gomorrah adalah kota yang dikenal karena kemaksiatannya. Kaum Nabi Luth tak hanya menyimpang secara seksual, tetapi juga melakukan kejahatan terbuka tanpa malu. Meski telah diperingatkan oleh Nabi Luth berkali-kali, mereka justru mengejek dan mengusirnya.
Allah akhirnya menurunkan azab besar: kota mereka dibalikkan dan dihujani batu panas dari langit. Kisah ini diabadikan dalam Surah Hud ayat 82 dan Al-Hijr ayat 74, menjadi simbol kehancuran moral yang berujung pada kehancuran fisik.
Kaum ‘Ad adalah kaum yang kuat dan membangun kota megah bernama Iram di jazirah Arab bagian selatan. Dipimpin oleh Raja bernama Syaddad, mereka dikenal arogan dan suka menindas. Nabi Hud datang mengingatkan, tetapi mereka menolak dan bahkan mengejek seruan tauhid.
Allah mengirimkan angin dingin mematikan selama delapan hari tujuh malam, yang membuat mereka bergelimpangan seperti batang pohon kurma yang tumbang. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan duniawi tak bisa menyelamatkan dari murka Tuhan (QS. Al-Haqqah: 6-8).
Kaum Tsamud mendiami kawasan berbatu yang kini dikenal sebagai Madain Shalih. Nabi Shaleh diutus kepada mereka dengan mukjizat seekor unta betina yang keluar dari batu. Namun, kaum Tsamud justru menyiksa dan membunuh hewan itu.
Mereka akhirnya dihancurkan oleh suara petir yang memekakkan, disertai gempa yang meruntuhkan tempat tinggal mereka. Tragedi Tsamud tercatat dalam Surah Al-A’raf dan Asy-Syams sebagai contoh nyata kesombongan yang dibalas dengan kehancuran.
Nabi Syu’aib diutus kepada penduduk Madyan yang terkenal sebagai kaum pedagang. Namun, mereka terbiasa berbuat curang dalam takaran dan timbangan. Ketika diperingatkan, mereka mencemooh dan mengancam akan mengusir nabi.
Azab Allah datang berupa gempa bumi hebat yang menewaskan mereka semua. Padahal sebelumnya Madyan adalah kota dagang yang makmur. Kisah ini menunjukkan bahwa kezaliman ekonomi bisa mengundang murka Tuhan (QS. Hud: 84-95).
Firaun adalah simbol kekuasaan absolut yang menindas Bani Israil dan menolak dakwah Nabi Musa. Ia bahkan menyatakan dirinya sebagai tuhan. Meski telah disuguhi berbagai mukjizat—tongkat menjadi ular, air menjadi darah—ia tetap keras kepala.
Puncaknya, Firaun dan pasukannya ditenggelamkan di Laut Merah saat mengejar Musa. Allah menyelamatkan jasadnya agar menjadi pelajaran bagi manusia setelahnya (QS. Yunus: 90-92). Kehancuran ini adalah bukti bahwa kesombongan spiritual adalah jalan cepat menuju kehancuran.
Ashab al-Sabt adalah sekelompok masyarakat pesisir (kemungkinan Aylah) yang melanggar larangan Allah untuk tidak menangkap ikan di hari Sabtu. Mereka menyiasatinya dengan menjebak ikan sebelum Sabtu dan mengambilnya setelahnya.
Allah murka dan mengubah mereka menjadi kera sebagai bentuk penghinaan (QS. Al-Baqarah: 65). Kisah ini menunjukkan bahwa kepatuhan tak bisa ditawar dengan tipu daya.
Kisah-kisah ini bukan untuk ditakuti, melainkan untuk direnungkan. Azab yang pernah menimpa kota-kota besar itu adalah bukti bahwa moral dan akhlak kolektif suatu masyarakat menjadi penentu keberlangsungan peradaban. Jika peringatan diabaikan, sejarah bisa saja berulang.
TAGS : Kota murka Islam