KEISLAMAN

Apakah Film Jumbo Mengancam Akidah? Ini Penjelasannya

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Senin, 21/04/2025
kontroversi Jumbo mencerminkan dilema lama yang terus berulang: tarik-menarik antara kreativitas budaya dan batasan keyakinan. Ilustrasi film Jumbo yang sedang viral (Foto: tribunnews)

Terasmuslim.com - Film animasi Jumbo belakangan ini tengah menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Bukan semata karena kualitas ceritanya yang menyentuh dan digarap untuk anak-anak, tetapi juga karena munculnya kontroversi yang menyoroti sisi keyakinan dalam narasi yang diusung.

Sejumlah kalangan mempertanyakan apakah film ini sejalan dengan prinsip-prinsip agama, atau justru berpotensi merusak pemahaman anak-anak tentang konsep gaib dalam Islam. Sebagian menilai bahwa unsur-unsur tertentu dalam Jumbo tidak sejalan dengan ajaran akidah, sehingga pantas untuk dipermasalahkan.

Namun di sisi lain, tak sedikit pula yang melihat film ini sebagai bentuk karya kreatif belaka, yang tidak dimaksudkan untuk menyinggung aspek keagamaan. Lalu, sejauh mana benarnya anggapan bahwa Jumbo dapat memengaruhi pandangan anak-anak tentang dunia gaib? Ataukah ini hanya bentuk hiburan yang kebetulan memicu perdebatan?

Dikutip dari islami.co (Minggu, 20 April 2025), gesekan antara budaya populer dan pandangan kalangan Islamis memang bukan hal baru. Banyak produk hiburan modern dianggap bertabrakan dengan ajaran agama, terutama jika menyentuh ranah akidah.

Baca juga :

Salah satu perdebatan klasik adalah soal gambar dan animasi makhluk hidup, yang di sebagian kelompok dianggap tabu. Larangan ini berpijak pada hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang melarang penggambaran makhluk bernyawa, termasuk ancaman bagi para pembuat gambar serta keengganan malaikat untuk memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar makhluk hidup (HR. Bukhari-Muslim).

Pendekatan yang sangat literal terhadap teks-teks agama tersebut membuat sebagian kelompok Islamis menolak kartun atau film animasi, apalagi yang menggambarkan manusia atau hewan secara utuh. Meski demikian, ada juga ulama seperti Yusuf Qaradawi yang memberi ruang tafsir berbeda, dengan membedakan tujuan pembuatan gambar—mana yang untuk keperluan edukasi, mana yang hanya untuk hiasan atau kesenangan semata.

Kenyataannya, perkembangan teknologi dan gaya hidup modern turut melunakkan sikap sebagian kalangan Islamis populis, terutama generasi mudanya. Kini, dakwah pun mulai memanfaatkan animasi, meskipun tetap dengan modifikasi bentuk seperti menghapus mata atau wajah agar tidak menyerupai makhluk hidup secara utuh.

Film Jumbo sendiri menjadi sorotan karena menghadirkan karakter hantu, yaitu Meri, yang dianggap sebagian pihak sebagai potensi pelanggaran akidah. Figur hantu dianggap membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan konsep keimanan terhadap yang gaib menurut Islam, terutama oleh kalangan yang memegang teguh pendekatan literal dalam memahami agama.

Jika ditelusuri lebih jauh, ini bukan persoalan baru. Pada dekade 1990-an, film Casper the Friendly Ghost juga sempat menuai kontroversi serupa. Casper menggambarkan hantu sebagai sosok baik, menyentuh, dan penuh emosi—sebuah pendekatan yang sangat berbeda dari gambaran umum tentang hantu yang menyeramkan.

Dalam konteks budaya pop, keberadaan tokoh seperti Casper atau Meri lebih mewakili representasi emosional dari kenangan, kehilangan, atau trauma masa kecil. Mereka bukan hantu dalam pengertian mistis atau sesat, melainkan metafora dari luka batin atau rasa sepi yang masih membekas.

Kisah dalam Jumbo pun serupa. Meri tidak digambarkan sebagai entitas menakutkan, tetapi sebagai sosok yang mendampingi Don, sang tokoh utama, dalam perjalanan merebut kembali buku dongeng keluarga dari tangan antagonis misterius. Keberadaan Meri yang bisa menghilang dan berpindah tempat hanyalah elemen fantasi yang memperkuat alur cerita.

Apakah film ini lantas merusak akidah? Dilihat dari pendekatan budaya, tokoh seperti Meri lebih tepat dianggap sebagai bagian dari strategi komersial layaknya Casper yang dirancang untuk menggugah emosi, bukan menyebarkan ajaran sesat. Namun demikian, suara dari kelompok yang menolak tetap akan terdengar dominan, terutama karena mereka memiliki akses yang kuat terhadap ruang digital dan dominasi opini publik dari kelas menengah ke atas.

Di tengah derasnya arus informasi dan hiburan, penting bagi orang tua dan masyarakat untuk bersikap bijak—membedakan antara hiburan imajinatif dan potensi penyimpangan nilai.

 

TAGS : Film Jumbo Akidah Islam

Terkini