Ilustrasi foto memohon pertolongan Allah
Terasmuslim.com - Kecenderungan manusia untuk baru mengingat Sang Pencipta saat tertimpa kesulitan merupakan fenomena psikologis dan spiritual yang sering terjadi.
Ketika roda kehidupan berputar mulus, kelimpahan nikmat sering kali membuat seseorang lalai dan terbuai oleh kesenangan dunia.
Namun, saat musibah menghampiri dan seluruh pertolongan makhluk menemui jalan buntu, kesadaran fitrah manusia baru terbangun.
Fenomena kebiasaan manusia ini telah digambarkan secara jelas oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala dalam Al-Qur`an.
Allah berfirman dalam Surah Yunus ayat 12 bahwa manusia berdoa saat ditimpa kesukaran, namun berpaling ketika bahaya telah hilang.
Ayat tersebut menjadi cermin bahwa rasa butuh yang muncul saat terdesak adalah bukti pengakuan atas kelemahan diri manusia.
Kesulitan berfungsi sebagai teguran halus agar hamba yang melenceng segera kembali ke jalan yang lurus.
Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi mengingatkan agar kita mengingat Allah di waktu lapang, niscaya Allah mengingat kita di waktu sempit.
Hadis ini mengajarkan pentingnya membangun hubungan yang konsisten dengan Allah dalam segala kondisi, baik suka maupun duka.
Sifat ingkar janji setelah terlepas dari kesulitan juga disinggung dalam Surah Al-Ankabut ayat 65 saat manusia menghadapi badai di lautan.
Ketika gelombang mengancam, mereka berdoa dengan tulus, namun kembali menyekutukan Allah begitu tiba di daratan dengan selamat.
Mengingat Allah hendaknya tidak dijadikan pilihan terakhir atau sekadar sarana penyelamat darurat di saat krisis semata.
Istiqamah dalam berzikir dan beribadah saat kondisi tenang akan melatih keteguhan jiwa ketika badai ujian benar-benar datang.
Menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan di setiap helai napas akan melahirkan keikhlasan yang sejati tanpa kepura-puraan.
Mari jadikan setiap keadaan, baik kelapangan maupun kesempitan, sebagai jembatan untuk selalu dekat dengan Sang Maha Pencipta.