Ilustrasi foto konflik di tempat kerja
Terasmuslim.com - Kebencian dan rasa tidak suka merupakan ujian hati yang sering kali menguji kedewasaan seorang muslim dalam berinteraksi sosial.
Islam secara tegas melarang umatnya untuk memelihara kebencian yang berujung pada pemutusan tali silaturahmi atau perpecahan antar sesama.
Rasulullah SAW memperingatkan bahaya kedengkian dalam sabdanya bahwa dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar (HR. Abu Dawud).
Nabi Muhammad SAW juga menegaskan batasan mendiamkan saudara melalui sabdanya yang melarang seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari (HR. Muslim).
Bukannya membalas keburukan dengan dendam, Al-Qur`an justru menganjurkan untuk membalas perbuatan jahat dengan kebaikan yang tulus.
Allah SWT berfirman dalam Surah Fussilat ayat 34 agar membalas kejahatan dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang memusuhimu akan menjadi seperti teman yang setia.
Prinsip ini mengajarkan bahwa kelembutan dan kesabaran memiliki kekuatan besar untuk melunakkan hati yang dipenuhi rasa benci.
Selain itu, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menjaga persatuan dalam Surah Ali `Imran ayat 103 agar berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai.
Menjaga kedamaian dan keharmonisan di tengah perbedaan pendapat adalah kewajiban agama yang harus terus dirawat oleh setiap individu.
Dari kacamata hukum positif, pemerintah Indonesia juga melarang keras tindakan yang menyebarkan kebencian dan memicu permusuhan di tengah masyarakat.
Tindakan menyebarkan informasi yang menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA secara elektronik diatur dalam Pasal 28 ayat (2) UU ITE Jo Pasal 45A ayat (2) UU No. 1 Tahun 2024.
Aturan hukum negara ini berjalan selaras dengan nilai Islam untuk melindungi masyarakat dari potensi konflik dan perpecahan sosial.
Oleh karena itu, mengelola emosi dan mengedepankan sifat pemaaf merupakan langkah nyata dalam menjaga ketentraman bersama.
Mari kita jadikan setiap rasa benci yang hadir sebagai peluang untuk mendulang pahala melalui kesabaran dan kebesaran hati.
Pada akhirnya, kedamaian sejati hanya dapat terwujud jika kita mampu membalas keburukan dengan kebaikan serta merawat persatuan.