• KEISLAMAN

Membedah Mitos Kesialan Bulan Safar Menurut Islam

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Jum'at, 10/07/2026
Membedah Mitos Kesialan Bulan Safar Menurut Islam Ilustrasi - bulan Safar (Foto: shutterstock)

Jakarta, Terasmuslim.com - Anggapan bahwa Bulan Safar identik dengan kesialan masih dijumpai di sebagian masyarakat hingga saat ini.

Kepercayaan tersebut membuat tidak sedikit orang memilih menunda hajatan, pernikahan, pindah rumah, bahkan memulai usaha karena khawatir akan tertimpa musibah.

Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada dalil yang menyatakan bahwa Bulan Safar merupakan bulan yang membawa nasib buruk. Para ulama justru menegaskan bahwa keyakinan tersebut merupakan peninggalan tradisi Arab jahiliah yang telah diluruskan oleh Rasulullah SAW.

Ulama besar mazhab Hanbali, Ibnu Rajab al-Hanbali, menjelaskan bahwa Bulan Safar tidak memiliki karakteristik khusus yang menjadikannya sebagai bulan pembawa kesialan.

Menurut beliau, segala bentuk kebaikan maupun musibah dapat terjadi pada bulan apa pun sesuai ketetapan Allah SWT. Karena itu, tidak dibenarkan mengaitkan datangnya bencana dengan waktu tertentu.

Pandangan ini sejalan dengan prinsip akidah Islam yang menegaskan bahwa seluruh peristiwa di alam semesta berlangsung atas kehendak Allah, bukan karena pengaruh hari, bulan, ataupun tanda-tanda tertentu.

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab memiliki berbagai kepercayaan yang bersifat tahayul. Salah satunya adalah menganggap Bulan Safar sebagai bulan yang membawa malapetaka sehingga mereka menghindari berbagai aktivitas penting.

Islam kemudian menghapus keyakinan tersebut melalui penjelasan Rasulullah SAW.

Beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial karena pertanda tertentu), tidak ada keyakinan terhadap burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi dalil yang sangat jelas bahwa Bulan Safar tidak memiliki kekuatan mendatangkan musibah ataupun keberuntungan. Semua yang terjadi berada di bawah kehendak dan ketetapan Allah SWT.

Islam mengajarkan umatnya untuk bertawakal dan meyakini bahwa tidak ada satu pun musibah yang menimpa manusia tanpa izin Allah SWT.

Hal tersebut ditegaskan dalam firman Allah SWT:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun: 11)

Ayat tersebut menegaskan bahwa penyebab utama segala peristiwa bukanlah bulan atau waktu tertentu, melainkan takdir yang telah ditetapkan Allah SWT.