Ilustrasi hotel di makkah
Terasmuslim.com - Kenyamanan tempat menginap di Makkah dan Madinah memegang peranan penting dalam menjaga stamina jemaah selama beribadah di Tanah Suci.
Namun, tidak sedikit jemaah yang melakukan kesalahan fatal dengan hanya tergiur harga murah tanpa memeriksa legalitas dan jarak hotel.
Kementerian Agama RI sendiri telah mengatur standar ketat mengenai akomodasi demi melindungi keselamatan dan kelayakan hidup jemaah Indonesia.
Sikap abai dalam memilih hotel ini bisa berujung pada kelelahan fisik yang justru menghambat kesempurnaan rangkaian ibadah kita.
Allah Subhanahu wa Ta`ala menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menginginkan kesukaran dalam menjalankan syariat agama.
"...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..." (QS. Al-Baqarah: 185).
Salah satu kesalahan utama adalah memilih hotel yang berada di luar zonasi resmi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Sesuai regulasi penyelenggaraan, jarak hotel yang terlalu jauh tanpa fasilitas transportasi bus shalawat yang memadai akan sangat menyulitkan jemaah.
Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam senantiasa mengingatkan para pemimpin dan penyelenggara untuk selalu mempermudah urusan umat.
"Permudahlah dan janganlah kamu mempersulit, gembirakanlah dan janganlah kamu membuat orang lari." (HR. Bukhari).
Kesalahan berikutnya adalah tidak memastikan kontrak akomodasi yang jelas antara jemaah, pihak travel (PPIU), dan penyedia hotel di Arab Saudi.
Regulasi resmi mewajibkan setiap biro perjalanan untuk bersikap transparan mengenai nama hotel, kelas bintang, dan kapasitas kamar demi mencegah penipuan.
Prinsip transparansi dan kejujuran dalam muamalah ini merupakan perintah syariat yang wajib dijunjung tinggi oleh semua pihak.
"Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikul beban kepada seseorang melainkan sekadar kesanggupannya..." (QS. Al-An`am: 152).
Jemaah yang cerdas harus memastikan bahwa hotel pilihan mereka tercatat resmi dalam sistem aplikasi Siskopatuh milik Kementerian Agama.
Mari kita hindari kesalahan pemilihan akomodasi ini dengan lebih teliti, edukatif, dan selalu bersandar pada aturan hukum yang berlaku.
Semoga ikhtiar kita dalam mempersiapkan penginapan yang layak mendatangkan pahala serta kelancaran untuk meraih ibadah yang mabrur.