Terasmuslim.com - Ketika tanda-tanda kehancuran sebuah negara mulai tampak kezaliman merajalela, moral merosot, dan keadilan melemah seorang Muslim tidak boleh larut dalam pesimisme. Islam mengajarkan sikap proaktif dan penuh tanggung jawab. Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d: 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Ayat ini menjadi fondasi bahwa perubahan dimulai dari pribadi dan komunitas yang sadar akan amanahnya.
Sikap pertama adalah memperkuat iman dan ketakwaan. Dalam situasi krisis, iman menjadi jangkar agar tidak hanyut oleh arus kerusakan. Rasulullah SAW bersabda dalam hadist riwayat Imam Muslim, “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Artinya, ketika kebenaran terasa minoritas, seorang Muslim justru harus semakin teguh menjaga prinsip tauhid dan akhlaknya.
Sikap kedua adalah menghidupkan amar ma’ruf nahi munkar dengan hikmah. Allah memerintahkan dalam QS. Ali Imran: 104 agar ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ini bukan sekadar tugas ulama, tetapi tanggung jawab kolektif sesuai kemampuan masing-masing. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan; jika tidak mampu, dengan lisan; jika tidak mampu, dengan hati” (HR. Muslim). Diam terhadap kerusakan hanya akan mempercepat kehancuran.
Sikap berikutnya adalah menjaga persatuan dan tidak memperkeruh keadaan dengan fitnah serta provokasi. Sejarah kehancuran umat terdahulu, seperti yang dialami Kaum Saba, menunjukkan bahwa perpecahan dan kufur nikmat membawa akibat tragis. Dalam QS. Saba: 16, Allah menggambarkan bagaimana negeri yang makmur bisa berubah menjadi hancur karena kelalaian dan pembangkangan. Persatuan yang dilandasi iman menjadi benteng utama ketahanan bangsa.
Selain itu, seorang Muslim harus tetap menegakkan kejujuran dan amanah dalam setiap peran baik sebagai pemimpin, pegawai, pedagang, maupun rakyat biasa. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban” (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika integritas dijaga di setiap lini kehidupan, fondasi negara akan menguat meski diterpa krisis.
Akhirnya, sikap Muslim dalam menghadapi tanda-tanda kehancuran adalah menggabungkan doa dan ikhtiar. Doa para nabi dalam Al-Qur’an mengajarkan harapan dan kesabaran di tengah ujian. Islam tidak mengajarkan keputusasaan, melainkan optimisme yang realistis. Selama masih ada iman, keadilan, dan komitmen memperbaiki diri, maka harapan kebangkitan selalu terbuka. Di tengah krisis, Muslim sejati adalah cahaya yang menuntun, bukan sekadar penonton sejarah.




























