Ilustrasi foto sahabat Rasulullah SAW
Terasmuslim.com - Nama Zahir bin Haram mungkin jarang terdengar di mimbar-mimbar kajian. Ia bukan sahabat dari kalangan bangsawan, bukan pula tokoh besar dalam peperangan. Zahir adalah seorang lelaki dari pedalaman (Badui) yang sederhana dan secara fisik tidak menonjol. Namun justru di balik kesederhanaannya itulah tersimpan kemuliaan yang diakui langsung oleh Rasulullah SAW.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, dikisahkan bahwa Zahir biasa datang dari kampungnya membawa hasil dagangan untuk diberikan kepada Nabi SAW. Rasulullah sangat menyayanginya. Suatu hari, Nabi SAW mendatanginya dari belakang ketika ia sedang berjualan di pasar, lalu memeluknya. Zahir tidak mengetahui siapa yang memeluknya hingga ia menyadari bahwa itu adalah Rasulullah SAW.
Dalam suasana penuh keakraban itu, Nabi SAW bersabda dengan nada bercanda, “Siapa yang mau membeli budak ini?” Zahir pun berkata dengan rendah hati, “Wahai Rasulullah, kalau begitu engkau akan mendapatiku sebagai barang yang tidak laku.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tetapi di sisi Allah engkau tidaklah murah. Engkau sangat berharga.” Kalimat ini bukan sekadar gurauan, melainkan penguatan iman bahwa nilai manusia bukan pada rupa dan status, tetapi pada ketakwaannya.
Allah SWT telah menegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa. Kisah Zahir bin Haram menjadi tafsir hidup dari ayat ini. Di mata manusia ia mungkin biasa saja, tetapi di sisi Allah dan Rasul-Nya ia memiliki nilai tinggi karena keikhlasan dan kesederhanaannya.
Kisah ini juga menunjukkan akhlak Rasulullah SAW yang lembut, dekat dengan sahabat, dan mampu mengangkat harga diri mereka dengan kata-kata penuh cinta. Nabi SAW tidak hanya membina sahabat dengan nasihat serius, tetapi juga dengan canda yang mendidik dan menenangkan hati. Inilah dakwah yang menyentuh jiwa.
Zahir bin Haram mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu identik dengan popularitas. Bisa jadi seseorang yang tidak dikenal manusia justru sangat dikenal di langit. Selama iman dan keikhlasan terjaga, nilai seorang hamba tetap tinggi di sisi Allah. Itulah warisan hikmah dari sahabat sederhana yang begitu dicintai Rasulullah SAW.