Ilustrasi kisah sahabat Rasulullah
Terasmuslim.com - Nama Salim Maula Abu Hudzaifah mungkin tidak setenar sahabat besar lainnya, namun kedudukannya di sisi Rasulullah SAW sangat mulia. Ia adalah mantan budak yang dimerdekakan oleh Abu Hudzaifah bin Utbah. Islam datang menghapus sekat status sosial, dan Salim menjadi bukti nyata bahwa kemuliaan bukan karena nasab, melainkan karena iman dan ilmu. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa.
Salim dikenal sebagai salah satu sahabat yang paling ahli dalam Al-Qur’an. Rasulullah SAW bahkan bersabda, “Ambillah Al-Qur’an dari empat orang,” dan beliau menyebut nama Salim di antaranya. Hadist ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Masud dan menunjukkan betapa tinggi kedudukan Salim dalam ilmu dan hafalan Al-Qur’an. Keutamaannya bukan karena keturunan, tetapi karena kesungguhan dalam menuntut dan menjaga kalam Allah.
Ketika terjadi perubahan hukum terkait status anak angkat, Allah SWT menurunkan ayat dalam Surah Al-Ahzab yang menegaskan bahwa anak angkat tidak disamakan dengan anak kandung dalam nasab. Salim yang sebelumnya dipanggil Salim bin Abu Hudzaifah kembali dinisbatkan kepada ayah kandungnya. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana syariat berjalan dengan hikmah, dan Salim tetap dihormati meski status nasabnya berubah.
Dalam medan jihad, Salim menunjukkan keberanian luar biasa. Pada Perang Yamamah melawan kaum murtad, ia memegang panji kaum Muslimin. Ketika pasukan sempat goyah, ia berkata, “Betapa buruknya aku sebagai penghafal Al-Qur’an jika kaum Muslimin kalah karena aku.” Ia pun maju hingga gugur sebagai syahid. Keteguhan ini mencerminkan firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 45 agar kaum beriman tetap teguh ketika bertemu musuh.
Kisah Salim menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukan sekadar dihafal, tetapi dibela dengan jiwa dan raga. Ia tidak hanya ahli dalam bacaan, tetapi juga dalam pengamalan. Ia hidup dengan Al-Qur’an dan wafat dalam membelanya. Inilah kemuliaan sejati seorang hamba yang menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup.
Salim Maula Abu Hudzaifah mengajarkan bahwa Islam memuliakan siapa pun yang bertakwa, tanpa memandang latar belakang. Dari seorang mantan budak, ia menjadi guru Al-Qur’an dan syahid di jalan Allah. Namanya mungkin jarang disebut, namun jejaknya abadi dalam sejarah perjuangan Islam.