Ilustrasi foto pemimpin zalim
Terasmuslim.com - Dalam pandangan Islam, kepemimpinan adalah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang pemimpin yang zalim berarti telah mengkhianati amanah itu. Kezaliman dalam kepemimpinan bisa berupa penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan terhadap rakyat, atau menindas demi kepentingan pribadi. Padahal, Allah memerintahkan untuk menegakkan keadilan dan melarang keras perbuatan zalim.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58). Ayat ini menjadi dasar bahwa keadilan adalah inti dari kepemimpinan. Pemimpin yang zalim bukan hanya merugikan rakyat, tetapi juga menutup pintu rahmat bagi negerinya. Ketika kezaliman merajalela, maka datanglah kehancuran, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qasas: 59, “Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri sebelum Dia mengutus di ibu kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, dan Kami tidak akan membinasakan negeri-negeri itu kecuali penduduknya berbuat zalim.”
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan dalam hadis riwayat Ahmad, “Tidaklah seorang hamba yang Allah jadikan pemimpin atas rakyatnya mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.” Hadis ini menggambarkan betapa beratnya dosa seorang pemimpin yang menzalimi atau mengabaikan hak rakyat. Pemimpin yang adil akan menjadi naungan di hari kiamat, sedangkan pemimpin yang zalim akan menjadi sumber penyesalan dan azab.