• NEWS

Menag: Ekonomi Syariah Jadi Pilar Ketahanan Global

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Kamis, 23/04/2026
Menag: Ekonomi Syariah Jadi Pilar Ketahanan Global Menteri Agama, Nasaruddin Umar (Foto: kemenag)

Jakarta, Terasmuslim.com - Kementerian Agama mengambil peran krusial sebagai penjaga nilai dalam memperkuat ekosistem halal dan mengembangkan ekonomi syariah sebagai fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dalam forum diskusi dan halal bihalal B57+ Asia Pacific Regional Chapter di Jakarta, Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa langkah ini merupakan upaya mentransformasikan hubungan keagamaan menjadi kekuatan ekonomi riil.

Beliau memandang pertemuan tersebut bukan hanya sebagai ajang silaturahmi biasa, melainkan sebuah ruang strategis bagi kemaslahatan masyarakat luas.

Mengenai hal ini, Menag menyatakan bahwa “Momentum ini bukan sekadar seremoni, tetapi manifestasi dari ukhuwah Islamiyah yang kita transformasikan menjadi ukhuwah iqtisadiyah, persaudaraan ekonomi demi kemaslahatan umat.”

Dalam pandangan Nasaruddin Umar, ekonomi halal tidak bisa dipisahkan dari aspek spiritualitas yang menjadi basis kepercayaan dalam sistem keuangan dunia.

Kementerian Agama pun menempatkan diri sebagai mitra strategis guna menjamin kredibilitas produk serta ekosistem halal di tanah air.

Menag meyakini bahwa tingkat kepercayaan konsumen global yang tinggi terhadap Indonesia merupakan peluang emas untuk menjadikan negara ini sebagai pusat ekonomi syariah dunia.

“Ekonomi yang berkelanjutan harus berakar pada kepercayaan. Nilai-nilai spiritual yang kita jaga terbukti berkorelasi positif dengan kredibilitas ekonomi kita,” ucap Menag.

Lebih lanjut, keunggulan sistem syariah yang mengedepankan etika, keadilan, serta keterkaitan dengan aset riil dinilai mampu memberikan daya tahan lebih kuat dalam menghadapi guncangan ekonomi dibandingkan sistem konvensional.

Prinsip bagi hasil dan larangan riba dilihat sebagai model yang humanistik dan inklusif bagi semua kalangan. Ketahanan struktural ini menjadi alasan mengapa ekonomi syariah kian diminati secara global.

“Ekonomi syariah bukan soal ideologi, tetapi model ekonomi yang humanistik, inklusif, dan terbukti memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi gejolak,” kata Menag.

Hadirnya platform B57+ juga disambut baik sebagai jembatan kolaborasi sektor swasta di antara negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam.

Kerja sama lintas negara ini dianggap sangat penting untuk mengoptimalkan potensi industri halal dunia yang nilainya terus tumbuh pesat. Menag optimis bahwa sinergi antara pemerintah dan swasta akan menjawab tantangan global sekaligus memperkuat standar syariah.

“B57+ adalah jembatan untuk memperkuat sinergi ekonomi halal lintas negara. Ini penting untuk menjawab tantangan global sekaligus mengoptimalkan potensi besar ekonomi halal dunia yang nilainya diproyeksikan melampaui 3 triliun dolar AS,” ujar Menag.

Menutup pernyataannya dalam forum yang juga dihadiri oleh Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan Ketua B57+ Asia Pasifik Arsjad Rasjid tersebut, Menag kembali menegaskan komitmen regulatif kementeriannya.

Fokus utama tetap pada menjaga integritas produk agar tetap kompetitif namun patuh pada prinsip syariah.