• KISAH

Abdurrahman bin Auf, Teladan Orang Kaya yang Rendah Hati dan Dermawan

Yahya Sukamdani | Jum'at, 07/11/2025
Abdurrahman bin Auf, Teladan Orang Kaya yang Rendah Hati dan Dermawan Ilustrasi kaya dan dermawan

Terasmuslim.com - Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dikenal sebagai saudagar sukses dan sangat dermawan. Beliau termasuk dalam Asyrah Mubasyyarin bil Jannah sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Dalam sejarah Islam, Abdurrahman bin Auf dikenal bukan hanya karena kekayaannya yang melimpah, tetapi juga karena kerendahan hati dan kepeduliannya terhadap umat. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19). Ayat ini benar-benar diamalkan oleh Abdurrahman bin Auf dalam kehidupannya.

Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf memulai kehidupannya dari nol tanpa harta. Namun, dengan kerja keras dan kejujuran, Allah SWT memberkahi setiap usahanya hingga menjadi salah satu orang terkaya di kalangan sahabat. Dalam hadist riwayat Bukhari, beliau berkata kepada kaum Anshar yang ingin memberinya sebagian harta, “Tunjukkan saja padaku di mana pasar.” Dari sinilah tampak sifat mandiri dan semangatnya untuk bekerja tanpa bergantung pada orang lain, sekaligus menunjukkan sikap tawakal dan kejujuran dalam mencari rezeki.

Kekayaan yang dimiliki tidak membuat Abdurrahman bin Auf sombong. Ia justru menjadi salah satu dermawan terbesar dalam sejarah Islam. Diriwayatkan bahwa beliau pernah menyumbangkan 700 unta yang penuh muatan untuk jihad di jalan Allah, serta memberikan ribuan dinar untuk para janda sahabat Rasulullah SAW. Rasulullah sendiri pernah bersabda, “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Tirmidzi). Sifat rendah hati dan dermawan Abdurrahman bin Auf menjadi bukti nyata bagaimana kekayaan dapat menjadi jalan menuju keberkahan, bukan kesombongan.

Keteladanan Abdurrahman bin Auf mengajarkan bahwa kekayaan bukanlah hal yang tercela selama digunakan di jalan yang benar. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya, tetapi menuntut agar kekayaan itu disertai syukur, kerendahan hati, dan kepedulian sosial. Sosok beliau menjadi bukti bahwa seorang Muslim dapat meraih keberhasilan dunia tanpa meninggalkan nilai ukhrawi.