• SOSOK

Keutamaan Sayyidah Khadijah, Istri yang Dicukupkan Nabi SAW

Yahya Sukamdani | Selasa, 04/11/2025
Keutamaan Sayyidah Khadijah, Istri yang Dicukupkan Nabi SAW Ilustrasi foto istri solehah

Terasmuslim.com - Sayyidah Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu ‘Anha memiliki kedudukan istimewa di hati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tak tergantikan. Ia adalah orang pertama yang beriman kepada risalah kenabian beliau, bahkan sebelum wahyu tersebar luas. Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Khadijah menjadi tempat Nabi bersandar di masa-masa sulit. Rasulullah bersabda, “Dia beriman kepadaku ketika orang lain mengingkariku, ia membenarkanku ketika orang lain mendustakanku, dan dia membantuku dengan hartanya ketika orang lain menahannya dariku.” (HR. Ahmad dan Hakim). Cinta dan kesetiaan Khadijah menjadi sebab utama Rasulullah tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup.

Khadijah bukan hanya seorang istri yang setia, tetapi juga penopang utama perjuangan dakwah Nabi di masa awal Islam. Ia rela mengorbankan harta, waktu, dan ketenangan hidup demi mendukung risalah Allah. Dalam surah Adh-Dhuha ayat 3, Allah berfirman, “Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu.” Ayat ini menjadi penghibur bagi Rasulullah di saat sulit, dan salah satu bentuk kasih Allah adalah dengan memberikan pendamping seperti Khadijah yang penuh kasih dan keimanan.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap mengenang Khadijah bahkan setelah wafatnya. Dalam hadis riwayat Muslim, Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi sebagaimana kecemburuanku kepada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Nabi sering sekali menyebut-nyebut namanya.” Ini menunjukkan betapa dalamnya cinta Rasulullah kepada Khadijah dan bagaimana jasa-jasanya begitu membekas dalam kenangan beliau.

Kisah Khadijah adalah teladan bagi seluruh wanita Muslimah dalam hal kesetiaan, keteguhan iman, dan dukungan terhadap perjuangan suami. Ia bukan hanya istri seorang nabi, tetapi juga mitra sejati dalam dakwah. Cukuplah keutamaan ini menjelaskan mengapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencukupkan diri dengan satu istri selama Khadijah hidup.