• KEISLAMAN

Ada Gerhana Bulan, Ini Anjuran Shalat Khusuf dan Waktu Pelaksanaannya

Agus Mughni Muttaqin | Sabtu, 06/09/2025
Ada Gerhana Bulan, Ini Anjuran Shalat Khusuf dan Waktu Pelaksanaannya Gambar gerhana matahari (Foto: NASA)

Terasmuslim.com - Fenomena gerhana bulan adalah momen langit yang memukau sekaligus peringatan akan kebesaran Allah, dan menjadi panggilan spiritual yang diawali dengan perintah Rasulullah SAW secara tegas dan lembut. Dalam hadits shahih diperingatkan bahwa, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua bukti kebesaran Allah... Jika kalian melihat gerhana, maka shalatlah.”

Gerhana bulan total pada Minggu dinihari, 7 September 2025, menjadi pertanda langit malam Indonesia akan diselimuti fenomena langka Blood Moon, sebuah momen luar biasa yang bisa terlihat jelas dari seluruh penjuru negeri. Fenomena ini menjadi panggilan spiritual bagi umat Islam untuk menunaikan shalat gerhana bulan atau khusuful qamar, sebagai bentuk pengakuan terhadap kebesaran Sang Pencipta.

Fenomena ini akan berlangsung sepanjang malam, dimulai dengan gerhana penumbra sekitar pukul 22.26 WIB, mencapai fase total pada pukul 00.30 WIB, hingga berakhirnya seluruh fase sekitar pukul 03.56 WIB. Durasi totalitas berlangsung selama lebih dari satu jam, memberikan waktu cukup bagi jamaah untuk melaksanakan shalat dengan khusyuk.

Pelaksanaan sholat khusuf qamar (gerhana bulan) mengikuti jejak teladan Nabi SAW di mana umat beliau berkumpul di masjid, atau di lapangan terbuka untuk melaksanakan dua rakaat khusyuk yang dipenuhi bacaan panjang, rukuk dan sujud yang lebih lama, lalu diakhiri dengan dua khutbah penyemangat keimanan.

Dalam peristiwa gerhana, umat Islam diajak merenung dan kembali kepada Allah dengan memperbanyak istighfar, doa, dan sedekah selain salat sunnah, sebagai bentuk refleksi spiritual atas kuasa ilahi.

Sedikit berbeda pendapat ulama tentang pelaksanaan berjamaah, sebagian mazhab memandang shalat gerhana bulan cukup dikerjakan secara individu sementara lainnya menganjurkan berlangsung berjamaah seperti sholat Idul.

Fenomena langit ini bukan sekadar ritual, tetapi juga pengingat bahwa alam semesta berfungsi sebagai ayat yang mengarahkan manusia untuk tidak menyembah bulan atau matahari, melainkan kepada Sang Penciptanya, sebagaimana terungkap dalam Al-Qur’an.

Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara matahari dan bulan, menciptakan bayangan yang membuat bulan tampak meredup atau bahkan berwarna merah, seperti yang terjadi pada malam gerhana total September 2025 nanti.

Malam Senin 7–8 September 2025 akan menjadi kesempatan langka bagi warga Indonesia untuk menyaksikan gerhana bulan total, dan menjadi momen terbaik untuk kembali memperbanyak zikir dan shalat sebagai bentuk syukur dan pengakuan atas kebesaran Allah.

Adapun tahapan gerakan shalat gerhana bulan memiliki kekhasan tersendiri, antara lain bacaan Surat Al-Fatihah dan ayat panjang dua kali per rakaat, diselingi rukuk dan i’tidal yang diulang, serta bacaan dengan suara keras (jahar). Imam kemudian menutup dengan dua khutbah pendamping yang mendorong jamaah untuk semakin meningkatkan ketaqwaan, memberbanyak bersyukur dan meningat kebesaran Tuhan, memperbanyak sedekah, hingga memperkuat solidaritas dalam masyarakat.

Seiring dengan gerhana, ruang spiritual terbuka lebar bagi umat untuk menundukkan hati melalui ritual yang indah ini. Maka makna shalat gerhana bukan sekadar ritual formal, tetapi sarana mengukir kembali ikatan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.