• KEISLAMAN

Hadis yang Mengajarkan Cinta Rasulullah dengan Hati, Bukan Sekadar Kata

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Minggu, 10/08/2025
Hadis yang Mengajarkan Cinta Rasulullah dengan Hati, Bukan Sekadar Kata Ilustrasi - lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)

Jakarta, Terasmuslim,com - Rasulullah SAW bukan hanya pemimpin dan utusan Allah, tetapi juga sosok yang begitu dicintai dan dihormati oleh para sahabat dan umatnya.

Kecintaan terhadap Nabi tidak hanya diukur dari pengakuan lisan, tetapi juga dari sejauh mana hati seorang Muslim ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Rasulullah SAW, baik dalam suka maupun duka.

Salah satu hadis yang menggambarkan kedalaman hubungan emosional dan spiritual antara Nabi dan umatnya adalah sabda beliau berikut ini:

افرحوا لفرحِي، واحزنوا لحزنِي

"Afraḥū lifaraḥī, waḥzanū liḥuznī"

Artinya: “Berbahagialah kalian ketika aku bahagia, dan bersedihlah kalian ketika aku bersedih.”

Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa ulama melalui jalur yang dianggap sebagai riwayat hasan, meskipun tidak tercantum dalam kitab-kitab hadis utama seperti Shahih Bukhari atau Shahih Muslim.

Namun, kandungannya sejalan dengan semangat syariat tentang mahabbah (kecintaan) yang tulus kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadis ini bukan sekadar ajakan emosional, melainkan seruan agar umat memiliki empati batin yang dalam kepada Rasulullah SAW, menjadikan kebahagiaan beliau sebagai kebahagiaan umat, dan menjadikan kesedihan beliau sebagai kesedihan yang dirasakan bersama. Hal ini menggambarkan tingkat hubungan spiritual tertinggi antara Rasul dan umatnya.

Maksud dari “berbahagia ketika aku bahagia” adalah turut bergembira saat ajaran Islam berjaya, saat kebaikan menyebar, dan saat umat menunjukkan akhlak mulia sebagaimana dicontohkan Rasulullah.

Sedangkan “bersedihlah saat aku bersedih” mencerminkan keprihatinan saat sunnah beliau ditinggalkan, saat umat dalam kemunduran moral dan keimanan, atau saat nama beliau dilecehkan.

Ini juga mengajarkan bahwa kecintaan sejati kepada Nabi SAW bukan hanya bersifat simbolik, tetapi mencakup perasaan yang hidup dalam hati dan tercermin dalam tindakan sehari-hari.

Hadis ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk menjaga koneksi batin dengan Rasulullah SAW, bukan hanya dalam bentuk pujian atau salawat, tetapi juga dalam meneladani akhlak dan semangat perjuangannya.

Di era modern yang penuh godaan dan tantangan, hadis ini mengajarkan kita untuk selalu merasa terlibat secara emosional dalam perjuangan Islam, membela kehormatan Nabi, dan menjaga warisan dakwahnya.

Bahkan, dalam momentum peringatan Maulid Nabi, Ramadhan, maupun hari-hari besar Islam lainnya, hadis ini bisa menjadi renungan: apakah kebahagiaan kita selaras dengan apa yang Rasulullah perjuangkan? Apakah kita sedih ketika sunnah beliau dilanggar atau dilupakan?