Ilustrasi adakah nabi perempuan (Foto: Bincang Muslimah)
Terasmuslim.com - Pertanyaan “Apakah ada nabi perempuan dalam Islam?” mungkin jarang terdengar dalam forum-forum keagamaan. Namun, M. Quraish Shihab—ulama dan cendekiawan muslim terkemuka di Indonesia—pernah menyampaikan jawaban yang menarik, tajam, dan membuka ruang tafsir yang luas mengenai hal ini.
Dalam sebuah ceramah beberapa tahun silam, Quraish Shihab membuka penjelasannya dengan menjelaskan bahwa Al-Qur’an hanya menyebutkan 25 nabi dari total 124.000 nabi yang diyakini ada. Artinya, kemungkinan adanya nabi perempuan tidak bisa serta-merta disangkal.
“Kita tidak bisa memastikan apakah nabi tidak ada yang perempuan. Karena apa yang kita ketahui hanya sebagian kecil dari total jumlah nabi,” ungkap Quraish Shihab.
Lebih lanjut, Quraish Shihab mengangkat fakta menarik dari Al-Qur’an. Ia menyebut dua tokoh perempuan yang secara eksplisit disebut menerima wahyu dari Tuhan: ibu Nabi Musa dan Sayyidah Maryam.
Jika nabi didefinisikan sebagai seseorang yang menerima wahyu, maka dua sosok ini—meskipun tidak disebut secara eksplisit sebagai "nabi"—layak untuk dipertimbangkan sebagai bagian dari kategori tersebut.
“Ibu Nabi Musa dan Maryam menerima wahyu. Kalau definisi nabi adalah yang diberi wahyu, bukankah itu berarti mereka juga nabi?”
Salah satu argumen klasik yang sering diajukan untuk menolak kemungkinan adanya nabi perempuan adalah ayat yang berbunyi: “Kami tidak mengutus rasul-rasul melainkan dari kalangan Rijal (laki-laki)”. Namun, Quraish Shihab menawarkan tafsir yang berbeda.
Menurutnya, kata “Rijal” dalam konteks ini tidak harus dimaknai sebagai "laki-laki" secara biologis, tetapi bisa diartikan sebagai tokoh-tokoh terkemuka atau figur panutan.
“Kata Rijal bisa juga berarti tokoh-tokoh teladan. Jadi, bisa saja seorang perempuan menjadi rasul atau nabi, jika kita memahami maknanya secara lebih luas,” jelasnya.
Quraish Shihab juga menyinggung persoalan budaya dan pendidikan yang selama ini kurang menampilkan tokoh-tokoh perempuan sebagai teladan dalam sejarah Islam. Dalam narasi besar peradaban Islam, sosok perempuan sering kali tenggelam di balik dominasi figur-figur laki-laki.
Padahal, sejarah Islam mencatat banyak perempuan luar biasa. Sebut saja Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad yang juga pelopor dakwah awal Islam, atau Aisyah, istri Nabi yang juga dikenal sebagai periwayat hadits terbanyak dan tokoh intelektual berpengaruh.
“Tidak kurang perempuan-perempuan hebat dalam sejarah Islam. Tapi kita jarang mendengarnya karena tidak ditampilkan dalam pendidikan dan percakapan sehari-hari,” ujar dia.
Bahkan jika peran kenabian tidak disematkan pada sosok perempuan secara eksplisit, Quraish Shihab menegaskan bahwa perempuan memainkan peran yang sangat besar dalam membentuk sejarah, peradaban, dan bahkan politik Islam.
Ia mengutip contoh ibu dari Alexander the Great dan ibu dari Muawiyah bin Abi Sufyan, pendiri Dinasti Umayyah. Dua tokoh perempuan ini, menurutnya, adalah contoh nyata bagaimana kekuatan perempuan tidak bisa dianggap remeh dalam pembentukan arah sejarah umat manusia. (*)
Wallohu`alam