• KEISLAMAN

Perlu Tahu Ritual Tolak Bala di Bulan Muharram Menurut Islam

Yahya Sukamdani | Selasa, 01/07/2025
Perlu Tahu Ritual Tolak Bala di Bulan Muharram Menurut Islam Ilustrasi ritual (Foto: detik)

Terasmuslim.com - Setiap memasuki bulan Muharram, sejumlah daerah di Indonesia menggelar ritual tolak bala dengan berbagai bentuk. Mulai dari pembacaan doa bersama, pembakaran kemenyan, hingga pembagian makanan seperti bubur suro sebagai simbol penolak musibah. Namun, praktik ini menuai perdebatan di kalangan umat Islam. Apakah benar bulan Muharram dipenuhi bala? Dan bagaimana pandangan Islam terhadap ritual semacam ini?

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Dalam berbagai hadis, Rasulullah ﷺ menyebut Muharram sebagai “Syahrullah” atau bulannya Allah. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, terutama puasa sunnah, seperti puasa Tasu’a dan Asyura. Namun, tidak ada satu pun riwayat sahih yang menyatakan bahwa bulan ini adalah waktu yang rawan musibah atau bencana sehingga harus ditolak dengan ritual khusus.

Sejumlah ulama menegaskan bahwa ritual tolak bala yang tidak bersumber dari Al-Qur’an atau hadis sahih tergolong sebagai amalan yang diada-adakan dalam agama, atau dikenal dengan istilah bid’ah. Jika suatu perbuatan dianggap sebagai ibadah padahal tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ maupun para sahabat, maka amalan itu tertolak. Hal ini merujuk pada sabda Nabi, “Barangsiapa membuat-buat perkara baru dalam urusan agama kami yang tidak berasal darinya, maka perbuatan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ritual tolak bala yang dilakukan masyarakat sering kali diiringi unsur-unsur yang mendekati praktik mistik. Misalnya, membakar kemenyan, menyebar bunga di perempatan, atau menabur garam sebagai penangkal energi negatif. Meski beberapa masyarakat mengklaim ini sebagai budaya, para ulama memperingatkan agar tidak menjadikannya sebagai keyakinan keagamaan, apalagi sampai melibatkan unsur tahayul dan syirik.

Islam sendiri memiliki cara yang jelas dalam memohon perlindungan dari marabahaya. Rasulullah mengajarkan berbagai doa, zikir pagi dan petang, serta amalan seperti sedekah dan puasa sunnah yang diyakini menjadi pelindung dari bala. Selain itu, memperkuat hubungan dengan Allah melalui salat, tilawah Al-Qur’an, dan memperbanyak istighfar jauh lebih dianjurkan dibanding praktik-praktik simbolik yang tidak memiliki dasar syar’i.

Dosen-dosen fikih dari berbagai universitas Islam juga menyatakan bahwa kekhawatiran terhadap bala di bulan Muharram lebih banyak didasarkan pada mitos dan tradisi lokal, bukan pada dalil agama. Karena itu, umat Islam diimbau untuk tidak mudah mengikuti ritual-ritual yang tidak jelas asal-usulnya, meskipun dikemas dengan label keagamaan.

Pada akhirnya, bulan Muharram semestinya dijadikan momentum untuk memperbanyak amal kebaikan, bukan menyebarkan rasa takut dengan asumsi datangnya musibah. Islam tidak mengajarkan sikap pesimistis, melainkan mendorong umatnya untuk selalu bertawakal dan berserah diri kepada Allah, dengan tetap menjalankan ikhtiar yang sesuai tuntunan syariat.