Ilustrasi - cara sukses dan kaya dimulai dari hubungan dengan Allah (Foto: ADVENTISTHEALTHCARE)
Jakarta, Terasmuslim.com - Impian untuk menjadi orang sukses dan hidup berkecukupan merupakan dambaan banyak orang.
Namun dalam perspektif Islam, kekayaan bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan bagaimana cara memperoleh dan memanfaatkannya. Hal ini disampaikan secara mendalam oleh ulama kharismatik, KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang lebih dikenal sebagai Buya Yahya.
Menurut Buya Yahya, keberhasilan dan rezeki yang berkah hanya dapat diraih jika seluruh langkah hidup—terutama dalam berbisnis—dimulai dengan menggantungkan harapan kepada Allah SWT.
Beliau menekankan bahwa setiap aktivitas, termasuk membuka usaha atau toko, semestinya diawali dengan kesadaran spiritual yang kuat.
"Tak sedikit orang yang memulai usaha tanpa sedikit pun mengingat Allah. Padahal, andai usaha itu diawali dengan wudhu dan doa, bahkan sholat dua rakaat, niscaya akan berbeda hasilnya," ujar Buya Yahya dalam salah satu ceramahnya.
Beliau menyebutkan dua sunnah dari Rasulullah SAW yang patut diterapkan saat memulai usaha: pertama, berwudhu kemudian berdoa; kedua, berwudhu lalu menunaikan sholat dua rakaat dan berdoa kepada Allah. Ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk tawakal yang mengakar pada keyakinan bahwa hanya Allah yang memberi keberhasilan sejati.
Dalam dunia usaha, banyak pelaku bisnis terlalu fokus pada strategi pemasaran, target keuntungan, atau kompetitor. Sayangnya, unsur ruhiyah atau spiritualitas sering kali diabaikan.
Buya Yahya mengingatkan bahwa walau ada orang yang bisa kaya tanpa kedekatan kepada Allah, kekayaan seperti itu akan terasa kosong dan sulit diarahkan untuk kebaikan.
Sebaliknya, kata beliau, seseorang yang meraih kekayaan dengan menjadikan Allah sebagai tujuan utama, akan merasa ringan dalam menunaikan zakat, bersedekah, serta membantu sesama. Bagi mereka, harta hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih kebahagiaan akhirat.
Rezeki yang dikejar hanya dengan mengandalkan logika dan kerja keras, lanjut Buya Yahya, bisa jadi terasa berat dan penuh kegelisahan. Sementara rezeki yang diraih dengan niat ikhlas dan keimanan, meski tampak kecil, justru membawa ketenangan dan keberkahan.
Dalam penutup pesannya, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk senantiasa mengingat bahwa rezeki adalah amanah dari Allah. Ia bukan sekadar hasil usaha duniawi, tetapi bentuk ujian dan titipan yang harus digunakan sebaik mungkin sesuai syariat.
Maka dari itu, kunci kesuksesan sejati tidak hanya terletak pada kerja keras, tetapi pada keikhlasan hati, kekuatan doa, dan hubungan yang erat dengan Sang Pemberi Rezeki. Ketika spiritualitas menyatu dengan usaha, keberhasilan dunia dan akhirat akan menjadi lebih mudah diraih.