• KEISLAMAN

Perlu Tahu Hukum Merayakan Ulang Tahun dalam Islam, Apakah Ada Contohnya

Yahya Sukamdani | Selasa, 17/06/2025
 Perlu Tahu Hukum Merayakan Ulang Tahun dalam Islam, Apakah Ada Contohnya Ilustrasi rayakan ulang tahun

Terasmuslim.com - Setiap tahun, tak sedikit umat Islam merayakan ulang tahun dengan kue, doa, dan kumpul keluarga. Namun, muncul pertanyaan yang kerap membingungkan: adakah contoh perayaan ulang tahun dalam Islam? Apakah perbuatan ini dibolehkan, atau justru mendekati hal yang dilarang?

Dalam sejarah Islam, tidak ditemukan satu pun contoh bahwa Rasulullah ﷺ merayakan hari kelahirannya setiap tahun. Tidak pula ada sahabat yang mengadakan acara serupa. Meski demikian, Islam tidak serta-merta melarang segala bentuk peringatan, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat.

Satu-satunya isyarat yang mendekati pengingat hari lahir tercantum dalam hadis riwayat Muslim, ketika Nabi ditanya tentang alasan beliau berpuasa di hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkannya wahyu kepadaku.” (HR. Muslim no. 1162). Namun, ini lebih mengarah pada puasa sebagai bentuk ibadah syukur, bukan perayaan dalam arti pesta atau acara sosial.

Ulang tahun, bid’ah atau adat?

Banyak ulama membagi ulang tahun dalam dua pandangan. Pertama, kalangan yang menilai ulang tahun termasuk bid’ah, sebab tidak diajarkan oleh Nabi dan dianggap meniru budaya Barat. Pendapat ini banyak dianut oleh ulama salafi dan sebagian konservatif.

Namun, ada pula yang berpendapat bahwa ulang tahun termasuk perkara mu’amalah atau budaya (‘urf). Jika isi acaranya tidak melanggar syariat seperti tidak ada kemaksiatan, ikhtilat bebas, musik haram, atau pemborosan maka ulang tahun bisa menjadi ajang syukur, introspeksi, dan silaturahmi.

Lembaga dan tokoh yang membolehkan

Sejumlah tokoh seperti Prof. Quraish Shihab menilai perayaan ulang tahun boleh saja dilakukan, selama tidak diyakini sebagai bentuk ibadah atau tradisi agama, melainkan sebagai bentuk rasa syukur atas usia yang bertambah.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak secara tegas mengharamkan perayaan ulang tahun. Namun MUI menekankan bahwa setiap bentuk perayaan harus mengandung nilai positif dan tidak menyelisihi ajaran Islam.

Lalu, bagaimana sikap bijaknya?

Islam tidak menilai sesuatu hanya dari bentuknya, melainkan dari niat, isi, dan dampaknya. Maka, ulang tahun bisa menjadi kesempatan baik jika dimaknai sebagai waktu untuk merenung dan mengevaluasi hidup. Momen bersyukur kepada Allah atas nikmat usia. Saat yang tepat untuk berdoa dan mempererat silaturahmi. Ajang mendidik anak tentang arti waktu dan tanggung jawab

Namun jika perayaan ulang tahun justru menjerumuskan pada kemewahan berlebihan, mengundang maksiat, atau meniru budaya asing tanpa nilai, maka lebih baik ditinggalkan.

Perayaan ulang tahun tidak ada contohnya secara eksplisit dalam Islam, namun bukan berarti otomatis dilarang. Jika dijalankan dalam bingkai syukur, doa, dan introspeksi diri bukan sekadar pesta dan hura-hura maka peringatan ini bisa tetap bermakna dan tidak keluar dari rel syariat.