Ilustrasi penting orangtua atau suami
Terasmuslim.com - Pertanyaan tentang siapa yang lebih utama untuk ditaati oleh seorang istri setelah menikah orang tua atau suami kerap muncul dalam kehidupan rumah tangga. Dalam Islam, hal ini dijawab dengan jelas, namun tetap mempertimbangkan konteks dan adab dalam hubungan kekeluargaan.
Islam tidak membenturkan antara bakti kepada orang tua dan ketaatan kepada suami, melainkan memberikan porsi yang proporsional dan penuh hikmah bagi masing-masing pihak.
Ketaatan istri setelah menikah: suami jadi prioritas
Setelah akad nikah, seorang wanita berpindah tanggung jawab dari ayahnya ke suaminya. Dalam Islam, suami menjadi pemimpin rumah tangga dan memiliki hak untuk ditaati oleh istri, selama tidak dalam hal maksiat.
Hal ini ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ:
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami atas istrinya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Ketaatan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari tinggal bersama suami, mengatur rumah tangga, hingga menjaga kehormatan dan nama baik keluarga.
Berbakti kepada orang tua tetap wajib
Meskipun prioritas taat berpindah ke suami, berbakti kepada orang tua (birrul walidain) tetap menjadi kewajiban seumur hidup. Bahkan, perintah ini berulang kali disebut dalam Al-Qur’an, sejajar dengan perintah menyembah Allah.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya..."
(QS. Al-Ankabut: 8)
Namun, setelah menikah, bentuk bakti ini harus disesuaikan dengan izin dan kesepakatan suami, kecuali dalam kondisi darurat atau ketika orang tua membutuhkan bantuan yang tidak bisa ditunda.
Jika suami dan orang tua bertentangan, mana yang diikuti?
Ketika terjadi konflik antara perintah suami dan keinginan orang tua, ulama menyatakan bahwa istri lebih utama menaati suami, selama perintahnya tidak dalam rangka maksiat atau melanggar syariat.
Contohnya, jika orang tua meminta anak perempuannya pulang ke rumah orang tua, namun suami melarang dengan alasan wajar, maka yang harus diikuti adalah keputusan suami. Namun, jika suami melarang tanpa alasan syar’i, maka dia dianggap menzalimi.
Keseimbangan: kunci keharmonisan
Islam menganjurkan musyawarah dan saling menghormati dalam rumah tangga. Suami yang bijak tidak akan memutus hubungan istri dengan keluarganya, dan istri yang beradab akan selalu meminta izin suami sebelum mengunjungi orang tuanya.
Membangun harmoni antara suami dan keluarga besar adalah wujud kematangan beragama dan berumah tangga.
Dalam Islam, ketaatan kepada suami menjadi prioritas bagi istri yang telah menikah, namun berbakti kepada orang tua tetap merupakan ibadah besar yang tidak gugur. Selama semua dijalankan dengan komunikasi, saling pengertian, dan tidak dalam rangka maksiat, hubungan antara keduanya bisa dijaga dengan baik.