• KEISLAMAN

Bagaimana Cara Menjadi Kekasih Allah? Ini Penjelasannya

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Kamis, 15/05/2025
Bagaimana Cara Menjadi Kekasih Allah? Ini Penjelasannya Ilustrasi (foto:kagetnews)

Terasmuslim.com - Meraih cinta dan kedekatan dengan Allah adalah dambaan setiap Muslim. Dalam Islam, jalan menuju derajat mulia itu tidak selalu harus ditempuh dengan amal yang berat. Justru, banyak kebaikan kecil yang sering tak disadari bisa mengantarkan seseorang menjadi kekasih Allah.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Baha, menyampaikan dalam salah satu ceramahnya bahwa Allah tidak memandang besar atau kecilnya amal semata, tetapi keikhlasan dan niat di baliknya. Ia mencontohkan, seseorang yang sekadar merawat hewan bisa saja memperoleh derajat tinggi di sisi Allah.

"Ada orang yang karena merawat hewan bisa menjadi wali Allah," ujar Gus Baha dalam ceramah yang disampaikan dengan gaya khasnya yang santai namun sarat makna.

Ia menegaskan bahwa tindakan sederhana seperti menyingkirkan duri di jalan pun termasuk amal yang sangat bernilai. Meskipun terlihat sepele, tindakan ini mencerminkan kepedulian dan kasih sayang yang besar, dua sikap yang sangat dihargai dalam Islam.

Tak hanya soal tindakan, Gus Baha juga menjelaskan bahwa dalam Islam, niat pun dihitung sebagai amal. Seseorang yang berniat untuk melakukan keburukan tetapi kemudian mengurungkan niatnya karena takut kepada Allah, tetap mendapatkan pahala.

"Kalau niat maksiat lalu tidak jadi dilakukan, itu justru ditulis sebagai kebaikan," terang Gus Baha. Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah begitu luas, sehingga setiap upaya untuk menahan diri dari keburukan dihargai sangat tinggi.

Menurut Gus Baha, menjadi pribadi saleh itu tidak harus melalui ibadah berat atau amal yang luar biasa. Hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan dengan hati yang tulus justru bisa lebih bermakna. Bahkan menjaga lisan dan sikap agar tidak menyakiti orang lain pun merupakan bentuk kesalehan.

Ia menekankan pentingnya tidak menjadi sumber gangguan bagi orang lain. Jika belum mampu memberikan manfaat secara langsung, setidaknya jangan sampai menyusahkan sesama.

"Kalau belum bisa membantu orang lain, minimal jangan menyakiti mereka," pesan Gus Baha.

Dengan gaya khasnya yang ringan dan penuh canda, Gus Baha juga menyoroti kebiasaan kecil sehari-hari yang bisa mengganggu orang lain, seperti berbicara keras hingga membuat tetangga tidak nyaman. Ia menyampaikan hal ini sebagai bentuk perhatian terhadap etika sosial dalam Islam.

"Kalau teriak-teriak di rumah, jangan terlalu kenceng, nanti ganggu tetangga," katanya sembari tersenyum.

Mengutip hadis Nabi, Gus Baha menyampaikan bahwa salah satu bentuk sedekah adalah menjaga diri agar tidak membuat orang lain tersakiti. “Takfu syarraka ‘aninnas,” artinya cukup dengan menahan keburukan dari menimpa orang lain, seseorang telah menunjukkan kebaikan.

Menurutnya, menjaga hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar, tidak menyakiti tetangga, dan tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain adalah bentuk akhlak mulia yang justru menjadi salah satu jalan menuju kecintaan Allah.

Bagi Gus Baha, Islam adalah agama yang penuh kemudahan dan kasih sayang. Setiap muslim diberi kesempatan luas untuk mendekat kepada Tuhannya, bahkan melalui perbuatan yang terlihat ringan namun dilakukan dengan hati yang bersih.

Ia pun mengajak umat untuk tidak meremehkan amal kecil, serta terus menjaga niat dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tidak menjadi beban bagi orang lain, dan dengan terus berusaha melakukan kebaikan, siapa pun bisa mendapat tempat istimewa di sisi Allah.

“Kalau tidak bisa berbuat banyak, cukup dengan tidak membuat susah orang lain. Itu sudah luar biasa,” pungkasnya.

Ceramah ini menjadi pengingat bahwa dalam Islam, kesempatan untuk menjadi hamba yang dicintai Allah terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang, selama ada niat yang lurus dan perbuatan yang baik, sekecil apa pun itu.