• KEISLAMAN

Pesona Masjid Menara Kudus, Warisan Sunan yang Abadi

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Minggu, 26/10/2025
Pesona Masjid Menara Kudus, Warisan Sunan yang Abadi Ilustrasi - Sunan Kudus (Foto: detik)

Jakarta, Terasmuslim.com - Berdiri kokoh di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Masjid Menara Kudus bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah mahakarya arsitektur dan dakwah yang mencerminkan akulturasi budaya Nusantara.

Peninggalan Sunan Kudus (Ja’far Shodiq), salah satu dari wali Songo yang dikenal dengan pendekatan dakwah kultural, masjid ini menyimpan banyak makna dari bentuk bangunannya, strategi dakwahnya, hingga jejak historisnya.

Arsitektur Masjid Menara Kudus sangat berbeda dari masjid-umumnya. Menaranya yang menjulang dengan tinggi sekitar 17-18 meter dan dasar berukuran sekitar 10×10 m menggunakan bata merah serta menghiasi dirinya dengan piring-piring bergambar, merupakan ciri khas yang jelas.

Menara yang menyerupai candi-Hindu ini merupakan strategi budaya: di masa itu, masyarakat setempat masih sangat dipengaruhi tradisi Hindu-Buddha.

Dengan menghadirkan bentuk yang “akrabi” budaya lokal—kalaupun fungsi akhirnya menjadi seruan adzan, bentuknya tetap familiar—Sunan Kudus berhasil mendakwahkan Islam dengan pendekatan yang inklusif.

Selain menara, arsitektur masjid mencerminkan perpaduan budaya. Contohnya: gapura atau gerbang yang bergaya “candi bentar”, kolam wudhu dengan arca delapan pancuran yang dianggap adaptasi dari konsep Asta Sanghika Marga, atap bertingkat khas Jawa, dan ukiran kayu jati besar sebagai tiang utama.

Semua elemen ini menunjukkan bahwa bangunan tersebut bukan hanya untuk fungsi ritual, melainkan juga untuk menerjemahkan dakwah melalui budaya.

Dibangun pada tahun 956 H atau sekitar 1549 M, masjid ini awalnya diberi nama “Masjid Al-Aqsa Menara Kudus”. Nama ini sendiri mengandung makna bahwa Islam di Nusantara memiliki hubungan spiritual dengan pusat-pusat Islam lainnya seperti Al-Quds atau Al-Aqsa di Palestina.

Sunan Kudus memilih lokasi ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan dakwah. Dengan mengintegrasikan makam, masjid, menara, dan ruang komunitas, kompleks ini menjadi lambang bahwa dakwah Islam di Jawa tidak hanya lewat ceramah, tetapi lewat hidup bersama masyarakat, memahami budaya, dan membangun ruang bersama.

Di era modern, Masjid Menara Kudus tetap relevan sebagai simbol toleransi, identitas lokal, dan kekayaan budaya Islam Nusantara. Ia mengajarkan bahwa dakwah bisa berjalan dengan menghargai budaya lokal, bukan meniadakannya.

Arsitektur yang unik menjadi daya tarik wisata religi sekaligus pengingat bahwa sejarah Islam Indonesia dibangun dalam harmoni dengan keragaman.

Bagi generasi sekarang, masjid ini mengingatkan kita bahwa penghormatan terhadap budaya tidak mengurangi keimanan — malah bisa menjadi jembatan keberterimaan dan keberlanjutan. Bahwa dakwah dan ibadah bisa berwujud tempat yang ramah, inklusif, dan kaya makna.