• KEISLAMAN

Ini Doa Buka Puasa Hajat Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Senin, 06/10/2025
Ini Doa Buka Puasa Hajat Sesuai Sunnah Rasulullah SAW Ilustrasi - Seorang pria sedang menunggu waktu berbuka puasa (Foto: Pexels/Oladimeji Ajegbile)

Jakarta, Terasmuslim.com - Bagi umat Islam, momen berbuka puasa bukan hanya saat untuk melepas rasa lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi waktu yang penuh keberkahan.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa doa orang yang berpuasa tidak akan ditolak, terlebih pada waktu menjelang dan saat berbuka puasa.

Karena itu, banyak umat Islam yang memanfaatkan detik-detik berbuka untuk memanjatkan doa, termasuk doa hajat agar keinginan mereka dikabulkan oleh Allah SWT.

Dalam riwayat sahih, Rasulullah SAW biasa membaca doa ketika berbuka puasa sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abdullah bin Umar RA:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dzahaba zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah

Artinya: “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah.” (HR. Abu Daud, no. 2357)

Selain itu, dalam riwayat lain dari Mu‘adz bin Zuhrah, disebutkan doa berbuka puasa yang juga sering diamalkan oleh Rasulullah SAW:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.” (HR. Abu Daud, no. 2358)

Sebagian umat Islam menggabungkan kedua doa ini menjadi satu bacaan lengkap yang lebih menyentuh, yaitu:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى
Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu, dzahaba zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah ta’ala

Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dengan rezeki-Mu aku berbuka. Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah Ta’ala.”

Para ulama menjelaskan bahwa waktu terbaik untuk memanjatkan doa adalah sesaat sebelum dan saat berbuka. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Sesungguhnya doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidak akan ditolak.” (HR. Ibnu Majah).

Karena itu, selain membaca doa buka puasa yang sesuai sunnah, disarankan pula untuk menyampaikan doa pribadi atau doa hajat setelahnya.

Bagi mereka yang tengah memiliki keinginan atau kebutuhan tertentu, dianjurkan untuk memohon kepada Allah SWT dengan hati yang khusyuk. Salah satu contoh doa hajat yang dapat dibaca setelah berbuka puasa adalah:

اللّهُمَّ يَا وَاسِعَ الْفَضْلِ، ارْزُقْنِي عَمَلاً صَالِحًا وَبَرَكَةً فِي رِزْقِي، وَاقْضِ لِي حَاجَتِي هَذِهِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Allahumma ya waasi‘al-fadl, urzuqni ‘amalan shalihan wa barakatan fi rizqi, waqdhili haajatii haadzihi, innaka ‘ala kulli syai’in qadiir
Artinya:

“Ya Allah, Dzat yang Maha Luas karunia-Nya, berilah aku amalan yang saleh, berkah dalam rezeki, dan kabulkanlah hajatku ini. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Doa tersebut dapat dibaca dengan penuh pengharapan setelah membaca doa berbuka puasa yang diajarkan Rasulullah. Para ulama menegaskan bahwa doa pada waktu ini sangat mustajab karena hati sedang dalam keadaan lembut dan penuh ketundukan setelah menahan lapar, haus, dan hawa nafsu sepanjang hari.

Istilah “puasa hajat” sendiri sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan puasa sunnah yang dilakukan dengan tujuan memohon sesuatu kepada Allah SWT.

Meski secara istilah fiqih tidak ada nama khusus “puasa hajat”, hakikatnya sama seperti puasa sunnah lainnya — seperti puasa Senin Kamis atau puasa Daud — yang kemudian diniatkan agar menjadi wasilah (perantara) untuk terkabulnya hajat.

Para ulama menegaskan, jika seseorang berpuasa dengan niat mendekatkan diri kepada Allah lalu berdoa agar hajatnya dikabulkan, maka hal itu termasuk amal yang dianjurkan. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Wa idzā sa’alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb, ujību da‘wata ad-dā‘i idzā da‘ān

Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Dengan demikian, berbuka puasa bukan hanya sekadar mengakhiri ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momen spiritual yang luar biasa.

Saat itulah seorang hamba berada pada posisi yang paling dekat dengan Allah SWT. Karenanya, sisipkanlah doa hajat di waktu berbuka, ucapkan dengan penuh keikhlasan, dan yakinlah bahwa setiap doa tidak akan sia-sia di sisi-Nya.

Sebagaimana pesan para ulama, “Berdoalah dengan hati yang yakin, sebab Allah tidak akan menolak doa hamba yang sungguh-sungguh.”