Ilustrasi foto Baitul Maqdis (Foto: Ist)
Terasmuslim.com - Di jantung Timur Tengah, berdiri sebuah kota tua yang namanya menggetarkan hati umat beriman. Baitul Maqdis yang lebih dikenal dunia dengan sebutan Yerusalem bukan sekadar tempat suci. Ia adalah simbol peradaban, saksi sejarah, dan medan perebutan yang terus membara hingga hari ini. Di sana, debu sejarah berpadu dengan gema azan dan dering lonceng gereja, menciptakan harmoni yang rapuh namun bermakna.
Bagi umat Islam, Baitul Maqdis bukan tempat biasa. Di sinilah Masjid Al-Aqsa berdiri, menjadi kiblat pertama umat Muslim sebelum Allah memerintahkan untuk menghadap Ka`bah. Di tempat ini pula, Nabi Muhammad ﷺ menjalani Isra` dan Mi`raj, perjalanan spiritual agung yang membawa risalah langit kepada umat manusia. Karena itu, Baitul Maqdis bukan hanya lokasi geografis, melainkan bagian dari akidah dan sejarah panjang Islam.
Namun, kota suci ini juga menjadi titik panas konflik yang tak kunjung padam. Sejak pendudukan Israel atas Yerusalem Timur tahun 1967, status Baitul Maqdis selalu menjadi pokok pertikaian. Upaya pengakuan sepihak, pembatasan akses umat Muslim ke Al-Aqsa, hingga tindakan provokatif oleh pemukim Yahudi terus menyulut kemarahan dunia Islam. Baitul Maqdis tak lagi hanya tentang tanah, melainkan tentang harga diri dan kedaulatan.
Baitul Maqdis telah disucikan oleh banyak nabi. Dari Nabi Ibrahim AS yang membawa Ismail ke Mekah, hingga Nabi Daud dan Nabi Sulaiman AS yang membangun tempat ibadah agung di tempat itu. Menurut para sejarawan Islam, Masjid Al-Aqsa yang ada sekarang berdiri di atas fondasi peninggalan mereka. Dalam sejarah Islam, Baitul Maqdis dibebaskan secara damai oleh Umar bin Khattab pada abad ke-7, dan kemudian direbut kembali dari pasukan Salib oleh Shalahuddin Al-Ayyubi pada 1187 M.
Hari ini, Baitul Maqdis adalah pusat doa dan juga air mata. Setiap kali terjadi serangan atau pelanggaran terhadap Al-Aqsa, umat Muslim di seluruh dunia merasakan luka yang sama. Sebab dalam jiwa setiap Muslim, Baitul Maqdis bukan sekadar tempat ibadah, melainkan bagian dari warisan spiritual dan amanah untuk dijaga.
Masjid Al-Aqsa tetap menjadi masjid ketiga paling suci dalam Islam, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Sabda Nabi ﷺ menyebut bahwa tidak dianjurkan melakukan perjalanan jauh kecuali ke tiga tempat tersebut, dan Al-Aqsa adalah salah satunya. Itu menandakan betapa besarnya keutamaan Baitul Maqdis dalam pandangan Islam.
Namun, tantangan tetap besar. Penjajahan, pembangunan permukiman ilegal, dan pembatasan akses jemaah terus menghimpit Al-Aqsa. Di tengah segala tekanan itu, warga Palestina tetap menjaga masjid suci itu dengan keberanian luar biasa, menghadapi pasukan bersenjata hanya dengan tekad dan keyakinan.
Baitul Maqdis bukan hanya kisah masa lalu. Ia adalah cermin masa kini dan masa depan umat. Sebuah pertaruhan atas nilai keadilan, hak asasi, dan martabat manusia yang terus menunggu penyelesaian hakiki. Dan selama Masjid Al-Aqsa berdiri, Baitul Maqdis akan selalu hidup dalam doa-doa umat Islam di seluruh dunia.