• SOSOK

Wahsyi bin Harb, dari Pembunuh Paman Nabi Menjadi Pejuang Islam

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Rabu, 18/06/2025
Wahsyi bin Harb, dari Pembunuh Paman Nabi Menjadi Pejuang Islam Ilustrasi - Wahsyi bin Harb (Foto: Media Islam)

Jakarta, Terasmuslim.com = Dalam sejarah Islam, nama Wahsyi bin Harb memiliki perjalanan hidup yang sangat dramatis, dari seorang hamba yang membunuh paman Nabi Muhammad SAW, hingga akhirnya menjadi seorang Muslim yang tulus dan turut berjihad di jalan Allah.

Sosoknya adalah bukti nyata bahwa Islam membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi siapa pun, bahkan bagi mereka yang pernah melakukan kesalahan besar.

Wahsyi bin Harb adalah seorang budak Habsyi (Ethiopia) yang tinggal di Mekah. Ia dikenal sebagai seorang pelempar tombak yang sangat ahli. Dalam Perang Uhud, ia dijanjikan kemerdekaan oleh tuannya, Jubair bin Muth’im jika berhasil membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW yang juga telah membunuh paman Jubair dalam Perang Badar.

Didorong oleh harapan untuk merdeka, Wahsyi menyelinap dalam pertempuran dan berhasil membunuh Hamzah dengan tombaknya. Setelahnya, ia menghindari keterlibatan lebih jauh dan menjauh dari Islam karena merasa bersalah dan takut akan pembalasan Nabi.

Setelah peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Kota Mekah), Wahsyi yang sebelumnya bersembunyi akhirnya datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyatakan keislamannya. Ia datang dengan penuh rasa takut dan penyesalan, memohon ampunan atas dosanya.

Nabi Muhammad SAW menerima keislamannya, namun karena rasa duka yang dalam atas wafatnya Hamzah, beliau meminta agar Wahsyi tidak sering menampakkan diri di hadapannya. Meski demikian, Islam tetap memberinya tempat sebagai seorang Muslim.

Wahsyi tidak hanya menjadi Muslim, ia juga turut berjuang dalam medan jihad. Dalam Perang Yamamah, ia menebus dosanya di masa lalu dengan membunuh Musailamah Al-Kazzab, nabi palsu yang mengancam eksistensi Islam pasca wafatnya Rasulullah SAW.

Wahsyi menggunakan tombak yang sama untuk menewaskan Musailamah, sebagaimana ia dulu membunuh Hamzah. Ia berkata, “Dulu aku membunuh manusia terbaik (Hamzah), dan kini aku membunuh manusia terburuk (Musailamah).” Ini adalah bentuk pertobatan dan kontribusinya bagi umat Islam.