Ilustrasi tidur malam hari (Foto: AI)
Terasmuslim.com - Setelah menjalani aktivitas seharian, tubuh manusia memerlukan waktu untuk beristirahat, dan tidur menjadi cara paling efektif untuk mengembalikan energi. Dalam ajaran Islam, aktivitas tidur tidak hanya dianggap sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga memiliki nilai ibadah bila dilakukan dengan adab yang tepat.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah mengenai kebiasaan mematikan lampu saat tidur. Benarkah Rasulullah SAW menganjurkan hal tersebut? Dalam salah satu kajian yang ditayangkan di kanal YouTube Al Bahjah TV dikutip pada Sabtu (10/5), Buya Yahya memberikan penjelasan mengenai hal ini.
Buya Yahya, pengasuh LPD Al Bahjah, menanggapi pertanyaan dari jemaah seputar anjuran tidur dalam keadaan gelap. Ia menjelaskan bahwa pemahaman tersebut bersumber dari hadis Nabi SAW yang berbunyi, "La tatrukunnāra fī buyūtikum hīna tanāmūn", yang artinya kurang lebih "Jangan tinggalkan api di rumah kalian saat tidur."
Ia menekankan bahwa konteks hadis ini tidak secara langsung menyuruh memadamkan lampu seperti yang digunakan saat ini, tetapi lebih kepada menjaga keamanan. Pada masa Nabi, penerangan masih berupa api, seperti pelita atau lampu minyak, yang tentu beresiko jika dibiarkan menyala tanpa pengawasan saat orang tertidur.
“Hadis tersebut menyangkut keselamatan. Dulu lampu pakai api, rawan bahaya. Sekarang kalau lampu listrik bisa memberikan manfaat keamanan, ya silakan saja dinyalakan,” jelas Buya Yahya.
Jadi, menurut beliau, yang utama dari hadis itu adalah prinsip kemaslahatan. Bila dengan mematikan lampu rumah menjadi lebih aman dan nyaman, maka itu baik. Namun, jika menyalakan lampu justru memberikan rasa aman dan mencegah kejadian buruk, maka itu pun dianjurkan.
Dalam kajian lainnya, berbagai ulama seperti Imam Al-Ghazali juga telah merinci adab-adab menjelang tidur yang sebaiknya diperhatikan oleh seorang Muslim. Di antaranya:
1. Membersihkan diri sebelum tidur, terutama dengan berwudhu. Kebersihan fisik mencerminkan kesiapan jiwa untuk beristirahat, dan berwudhu juga menjadikan tidur kita bernilai ibadah.
2. Tidur dengan posisi miring ke kanan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Posisi ini juga sejalan dengan pandangan medis karena dapat mendukung kerja jantung dan pernapasan, serta memberi waktu istirahat pada bagian otak kiri.
3. Berdzikir sebelum tidur. Mengingat Allah menjelang tidur dapat memberikan ketenangan batin. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW sebelum tidur berbunyi:
"Allâhumma bismika ahyâ wa bismika amût"
yang artinya, “Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati.” (HR Muslim)
4. Mengucap syukur saat bangun tidur. Begitu terjaga, dianjurkan untuk segera memuji Allah atas nikmat kehidupan yang diberikan kembali. Doa bangun tidur yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah:
"Alhamdulillâhil ladzî ahyânâ ba’da mâ amâtanâ wa ilaihin nusyûr",
artinya, “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali setelah sebelumnya mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami akan kembali.” (HR Bukhari)
Dengan memperhatikan adab-adab ini, tidur bukan hanya menjadi aktivitas biologis biasa, tetapi juga bernilai ibadah dan sarana untuk menjaga kesehatan lahir maupun batin.