Ilustrasi (Foto: IStockphoto)
Terasmuslim.com - Kesedihan mendalam kerap menyelimuti keluarga yang ditinggalkan saat seseorang wafat. Dalam suasana haru itu, isak tangis pun menjadi bagian tak terelakkan. Namun, di tengah duka, muncul pertanyaan di kalangan masyarakat, benarkah air mata yang jatuh ke tubuh jenazah bisa mengganggu perjalanan ruh menuju alam barzakh?
Isu ini sering kali menimbulkan kebingungan, terlebih bagi keluarga yang merasa kehilangan besar. Ada ketakutan bahwa kesedihan, bahkan tangisan, bisa berdampak negatif bagi si mayat. Namun, ulama kondang Buya Yahya memberikan jawaban yang menentramkan.
Dalam sebuah ceramahnya yang disiarkan melalui kanal YouTube @siramanrohani824, Buya Yahya menegaskan bahwa tidak ada kaitan antara air mata peziarah dengan beratnya perjalanan ruh orang yang telah wafat. Ia menyampaikan, dalam Islam, tangisan bukanlah sesuatu yang dilarang secara mutlak.
Menurut Buya, yang dilarang dalam ajaran Islam adalah ketidakterimaan terhadap takdir, bukan kesedihan atau air mata itu sendiri. “Menangis adalah hal yang manusiawi. Bahkan Rasulullah SAW sendiri menangis saat putranya, Ibrahim, meninggal dunia,” ujarnya.
Nabi Muhammad SAW, lanjut Buya, pernah berkata, “Mata ini meneteskan air mata, hati ini bersedih, namun kami tetap ridho atas keputusan Allah.” Ini menunjukkan bahwa perasaan sedih diperbolehkan selama tidak diiringi dengan penolakan terhadap kehendak Allah SWT.
Buya Yahya juga menjelaskan bahwa kesedihan yang dilampiaskan lewat tangis tidak menjadi sebab siksa bagi si mayat, kecuali jika tangisan itu disertai dengan perilaku yang melanggar syariat, seperti meratap, memaki, atau menyalahkan takdir.
“Yang tidak dibolehkan itu adalah sikap protes kepada Allah atau menunjukkan ketidakikhlasan dengan cara-cara yang melanggar adab,” ujarnya.
Adapun soal air mata yang jatuh ke jasad jenazah, Buya menegaskan bahwa hal itu tidak akan menimbulkan efek apapun terhadap kondisi ruh di alam barzakh. “Air mata itu tidak ada urusannya dengan urusan akhirat si mayat,” tegasnya.
Justru, menurut Buya, yang perlu diwaspadai adalah jika seseorang semasa hidupnya berwasiat agar keluarganya berpura-pura sedih atau meratap secara berlebihan setelah kematiannya. Itu justru menjerumuskan pada dosa.
“Kalau sampai mewasiatkan orang lain untuk melakukan yang dilarang syariat, maka si mayat akan ikut menanggung dosanya,” terangnya.
Buya juga mengkritik anggapan keliru yang berkembang di masyarakat bahwa tangisan menyebabkan ruh tidak tenang atau membuat si mayat tersiksa. “Kalau tangisan itu jadi penyebab siksa, maka Rasulullah tidak akan menangis ketika ditinggal putranya,” katanya.
Yang penting, lanjutnya, adalah memastikan bahwa tangis yang keluar berasal dari hati yang tulus, bukan karena ingin menunjukkan kepedihan secara berlebihan atau demi pencitraan sosial.
Lebih jauh, Buya Yahya mengingatkan bahwa ketidaksabaran dan kemarahan terhadap takdir, seperti mengeluh atau menyalahkan Allah atas kehilangan, adalah dosa individu. Dosa tersebut tidak ditanggung oleh jenazah.
“Maka, fokuslah pada keikhlasan menerima ketentuan Allah. Biarkan air mata jatuh sebagai bagian dari rasa cinta dan kehilangan, asalkan tetap dalam koridor adab dan syariat,” pesan Buya Yahya.
Di akhir nasihatnya, Buya mengajak umat agar tidak membuat duka menjadi tontonan. “Menangislah jika sedih. Tapi jangan jadikan kematian panggung untuk drama,” tutupnya tegas.