
Ilustrasi foto pamer harta di sosial media
Terasmuslim.com - Gemerlap etalase media sosial hari ini telah berhasil mendefinisikan ulang arti kesuksesan di mata generasi muda.
Ukuran keberhasilan hidup kini sering kali dipersempit sebatas kepemilikan materi, popularitas, dan validasi digital.
Pemuda Muslim hari ini rentan terjebak dalam pusaran flexing yang memicu penyakit hati seperti hasad dan takabur.
Melihat pencapaian orang lain secara terus-menerus di lini masa kerap melahirkan rasa cemas dan tidak bersyukur atas takdir-Nya.
Allah SWT telah mengingatkan bahaya persaingan semu ini dalam Al-Qur`an Surah At-Takasur ayat 1-2.
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takasur: 1-2).
Ayat ini merupakan tamparan keras bagi kita yang sering kali lupa diri demi mengejar status sosial di dunia maya.
Standar sukses seorang Muslim sejati seharusnya tidak diukur dari angka pengikut atau kemewahan yang dipamerkan.
Rasulullah SAW memberikan parameter yang sangat jelas mengenai siapa manusia yang paling sukses dalam sebuah hadist.
Dalam hadist riwayat Thabrani, beliau bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Oleh karena itu, kesuksesan hakiki terletak pada sejauh mana kontribusi positif kita untuk kemaslahatan umat.
Kita perlu meluruskan niat bahwa teknologi dan media sosial hanyalah sarana penunjang, bukan tujuan utama hidup.
Menggunakan platform digital untuk menyebarkan ilmu dan kebaikan jauh lebih mulia daripada sekadar memburu pujian duniawi.
Ketika orientasi hidup bergeser ke arah akhirat, maka ketenangan jiwa yang sesungguhnya akan dengan mudah diraih.
Jangan biarkan standar fatamorgana algoritma internet merampas kebahagiaan dan rasa syukur kita atas nikmat yang ada.
Mari kembalikan kiblat kesuksesan pemuda Muslim kepada ketakwaan yang kokoh dan keberkahan hidup yang abadi.
TAGS : Media sosial pemuda Muslim sukses hakiki Islami