
Ilustrasi foto diskusi damai diruang publik
Terasmuslim.com - Perbedaan pilihan politik dalam sebuah pesta demokrasi adalah hal yang lumrah sekaligus sunnatullah dalam kehidupan.
Namun, kompetisi politik kerap kali memicu polarisasi yang berpotensi meretakkan ikatan persaudaraan sesama anak bangsa.
Sebagai umat Muslim, kita wajib menempatkan persatuan di atas kepentingan politik praktis yang bersifat sementara.
Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Al-Qur`an Surah Ali `Imran ayat 103: "Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."
Ayat ini menegaskan bahwa menjaga persatuan dan kesatuan hukumnya adalah fardhu bagi setiap mukmin.
Media sosial sering kali menjadi medan tempur caci maki akibat fanatisme buta kepada figur tertentu.
Islam melarang keras tindakan saling menghina dan merendahkan martabat orang lain hanya karena beda pilihan.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 11: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok lebih baik dari mereka."
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa mencaci seorang Muslim adalah suatu kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.
Oleh karena itu, menjaga lisan dan jemari dari narasi provokatif adalah wujud nyata dari keimanan yang kokoh.
Pesta demokrasi sejatinya harus dipandang sebagai ikhtiar bersama untuk mencari pemimpin terbaik bagi kemaslahatan umat.
Sikap saling menghormati (tasamuh) harus tetap dijunjung tinggi meskipun visi dan partai politik kita tidak searah.
Ingatlah bahwa ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah kedudukannya jauh lebih mulia daripada sekadar syahwat kekuasaan.
Jangan sampai pemilu usai, namun luka horizontal di tengah masyarakat terus menganga dan sulit disembuhkan.
Mari kita kawal proses politik ini dengan kedewasaan berpikir agar Indonesia tetap damai, bersatu, dan mendapat berkah-Nya.
TAGS : perbedaan pilihan ukhuwah Islamiyah pemilu fanatisme politik