KISAH

Singa Padang Pasir dan Sang Pencari Kebenaran, Kisah Masuk Islamnya Hamzah serta Abu Dzar

Yahya Sukamdani| Rabu, 22/04/2026
Kekuatan iman Hamzah dan kejujuran Abu Dzar memperkokoh barisan dakwah. Ilustrasi foto sahabat Rasulullah

Terasmuslim.com - Masuk Islamnya dua sosok besar, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abu Dzar Al-Ghifari, menjadi titik balik penting dalam sejarah dakwah di Makkah.

Hamzah bin Abdul Muthalib, sang "Singa Allah", memeluk Islam setelah rasa pembelaannya terhadap kehormatan keponakannya, Rasulullah SAW, memuncak.

Awalnya, Hamzah tidak tahan mendengar kabar bahwa Abu Jahl telah menghina dan mencaci maki Nabi Muhammad SAW di dekat bukit Shafa.

Tanpa ragu, Hamzah mendatangi Abu Jahl dan memukulnya sambil mendeklarasikan keislamannya di hadapan pemuka kaum Quraisy yang terdiam seribu bahasa.

Baca juga :

Ketegasan Hamzah ini sesuai dengan spirit bahwa Allah akan menguatkan agama ini bahkan melalui sosok yang sangat disegani lawan.

Sementara itu, dari kejauhan suku Ghifar, Abu Dzar Al-Ghifari menempuh perjalanan panjang menuju Makkah demi mencari kebenaran hakiki.

Abu Dzar adalah sosok pencari Tuhan yang telah meninggalkan penyembahan berhala jauh sebelum ia bertemu dengan cahaya kenabian.

Sesampainya di Makkah, ia bertemu dengan Ali bin Abi Thalib yang kemudian menuntunnya secara rahasia untuk menemui Rasulullah SAW.

Begitu mendengar ayat-ayat Al-Qur`an, cahaya iman langsung menembus relung hatinya dan ia segera mengucapkan dua kalimat syahadat.

Rasulullah SAW memuji kejujuran Abu Dzar dengan bersabda: "Tidak ada orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar" (HR. Tirmidzi).

Berbeda dengan Hamzah yang masuk Islam dengan kekuatan fisik, Abu Dzar menunjukkan keberanian mental dengan berteriak tauhid di depan Ka`bah.

Tindakan nekat Abu Dzar tersebut membuatnya dikeroyok kaum kafir, namun hal itu justru semakin memantapkan keyakinannya pada Islam.

Keislaman Hamzah memberikan perlindungan fisik bagi dakwah, sedangkan keislaman Abu Dzar menjadi awal tersebarnya Islam ke suku-suku pedalaman.

Kisah mereka membuktikan firman Allah: "Barangsiapa yang Allah kehendaki memberikan hidayah kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk Islam" (QS. Al-An`am: 125).

Dua pahlawan ini mengajarkan kita bahwa hidayah bisa datang melalui rasa cinta keluarga maupun melalui pencarian intelektual yang jujur.

TAGS : Masuk Islam Sahabat Nabi Sejarah Islam

Terkini