KEISLAMAN

Keutamaan Menjawab Ucapan Muadzin Saat Panggilan Salat Berkumandang

Yahya Sukamdani| Rabu, 08/04/2026
Panduan praktis menjawab azan sesuai sunnah Nabi untuk meraih syafaat dan keberkahan ibadah harian. Ilustrasi foto Adzan

Terasmuslim.com - Azan merupakan panggilan suci yang menandakan masuknya waktu salat sekaligus syiar keagungan Allah SWT di muka bumi. Tatkala suara muadzin menggema, setiap Muslim diperintahkan untuk menghentikan sejenak aktivitas duniawi guna mendengarkan dengan khidmat. Tindakan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk penghormatan tertinggi seorang hamba terhadap undangan Sang Maha Pencipta.

Rasulullah SAW dalam hadis sahih riwayat Muslim menjanjikan ganjaran surga bagi siapa saja yang menjawab kalimat azan dengan tulus. Syariat mengajarkan kita untuk menirukan setiap kalimat yang diucapkan muadzin secara perlahan dan penuh keyakinan. Hal ini menjadi jembatan spiritual yang mempersiapkan hati seseorang sebelum bersujud secara resmi di atas sajadah.

Terdapat pengecualian khusus saat muadzin mengumandangkan kalimat Hayya ‘alash Shalah dan Hayya ‘alal Falah dalam panggilannya. Pada bagian ini, kita disunnahkan menjawab dengan kalimat Laa haula wa laa quwwata illa billah sebagai bentuk pengakuan kelemahan diri. Jawaban tersebut mencerminkan bahwa hanya dengan pertolongan Allah semata kita memiliki kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju masjid.

Bagi muadzin yang mengumandangkan azan Subuh, terdapat tambahan kalimat Ash-shalatu khairum minan naum yang memiliki makna sangat mendalam. Umat Islam dianjurkan menyambutnya dengan ucapan Shadaqta wa bararta yang berarti membenarkan pernyataan bahwa salat lebih baik daripada tidur. Kesadaran ini menjadi suntikan semangat bagi kaum mukminin untuk melawan kantuk demi menggapai keberkahan waktu fajar.

Setelah azan berakhir, rangkaian adab selanjutnya adalah membaca selawat kepada Nabi SAW dan melafalkan doa setelah azan. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang membaca doa tersebut, maka halal baginya syafaat beliau kelak di hari kiamat. Momentum antara azan dan iqamah juga merupakan waktu yang sangat mustajab bagi seorang hamba untuk memanjatkan doa pribadi.

Membiasakan diri menjawab ucapan muadzin secara konsisten akan menumbuhkan kedisiplinan spiritual dan ketenangan batin yang luar biasa. Praktik sederhana ini merupakan bukti nyata kecintaan kita terhadap sunnah serta kerinduan untuk senantiasa terhubung dengan Allah. Semoga setiap jawaban azan yang kita lantunkan menjadi pemberat timbangan kebaikan dan pembuka pintu-pintu rahmat Ilahi.

TAGS : Adab menjawab azan hadis keutamaan azan

Terkini