Terasmuslim.com - Kehidupan Rasulullah SAW selalu menjadi teladan bagi umat Islam, termasuk dalam perkara sederhana seperti kebiasaan makan dan minum. Salah satu kebiasaan beliau yang diriwayatkan dalam hadits adalah menyukai minuman yang manis dan dingin. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa minuman yang paling disukai Rasulullah SAW adalah minuman yang manis dan dingin. Riwayat ini tercatat dalam beberapa kitab hadits seperti riwayat Tirmidzi. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang kenikmatan yang halal selama tetap dalam batas yang wajar.
Dari sisi syariat, kebiasaan Rasulullah SAW ini mengajarkan bahwa menikmati makanan dan minuman yang baik merupakan bagian dari nikmat Allah yang patut disyukuri. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa manusia diperintahkan untuk memakan dan meminum yang halal lagi baik. Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 168 menegaskan, “Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” Minuman manis yang alami seperti madu atau air yang diberi rasa manis merupakan bagian dari kenikmatan yang diperbolehkan dalam Islam.
Secara historis, minuman manis yang dikonsumsi Rasulullah SAW bukanlah minuman dengan gula berlebihan seperti yang banyak beredar di zaman modern. Pada masa itu, rasa manis biasanya berasal dari bahan alami seperti madu, kurma, atau nabidz (air rendaman kurma atau kismis yang belum difermentasi). Karena itu, minuman tersebut tetap sehat dan alami. Islam selalu menekankan keseimbangan, sehingga sesuatu yang baik tetap dianjurkan untuk tidak dikonsumsi secara berlebihan.
Dari perspektif medis, minuman yang sedikit manis dapat membantu memberikan energi bagi tubuh. Gula alami dari madu atau buah dapat menjadi sumber glukosa yang cepat diserap tubuh. Sementara itu, minuman yang dingin atau segar membantu tubuh mengembalikan cairan yang hilang, terutama di daerah panas seperti Jazirah Arab pada masa Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan Rasulullah SAW juga selaras dengan kebutuhan fisiologis manusia.
Namun demikian, para ulama menjelaskan bahwa sunnah ini harus dipahami secara proporsional. Rasulullah SAW tidak pernah berlebihan dalam makan maupun minum. Dalam hadits lain beliau bersabda bahwa tidak ada wadah yang lebih buruk dipenuhi manusia selain perutnya, dan manusia cukup makan beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Prinsip moderasi ini menjadi landasan penting agar kebiasaan makan dan minum tetap menyehatkan.
Pada akhirnya, kebiasaan Rasulullah SAW menyukai minuman manis dan dingin mengandung pelajaran bahwa Islam adalah agama yang seimbang antara kenikmatan dunia dan kesehatan tubuh. Sunnah ini tidak sekadar soal rasa, tetapi juga mengajarkan syukur, kesederhanaan, dan menjaga kesehatan. Dengan meneladani kebiasaan Nabi secara bijak, umat Islam dapat merasakan keberkahan dalam hal yang sederhana sekalipun, termasuk dalam segelas minuman yang menyejukkan.
