
Ilustrasi dosa dan amal
Terasmuslim.com - Harta sering kali dipandang sebagai ujian yang menjerumuskan manusia pada cinta dunia. Namun dalam perspektif Islam, harta bukanlah musuh, melainkan amanah. Al-Qur`an menegaskan bahwa harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia, tetapi amal saleh lebih kekal di sisi Allah (QS. Al-Kahfi: 46). Artinya, harta akan bernilai di akhirat bukan karena jumlahnya, melainkan karena bagaimana ia dikelola dan dibelanjakan. Jika diarahkan untuk kebaikan, ia bisa menjadi kendaraan menuju surga.
Dalam banyak ayat, Allah memuji orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan-Nya. Salah satu yang paling masyhur adalah perumpamaan dalam QS. Al-Baqarah: 261, bahwa sedekah di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan tiap bulir seratus biji. Inilah janji pelipatgandaan pahala. Harta yang dikeluarkan tidaklah berkurang, justru dilipatgandakan balasannya. Konsep ini membalik logika dunia: memberi bukan kehilangan, tetapi investasi akhirat.
Rasulullah SAW bersabda, “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim). Dalam hadis lain riwayat Imam Muslim, ditegaskan bahwa setiap pagi dua malaikat turun, salah satunya berdoa agar Allah mengganti harta orang yang berinfak. Pesan ini sangat jelas: harta yang digunakan untuk zakat, infak, dan sedekah justru menjadi sebab turunnya keberkahan. Maka, pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa besar manfaat yang kita tebarkan darinya.
Sejarah Islam pun mencatat teladan agung para sahabat dalam memaknai harta. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam, sementara Utsman bin Affan membiayai pasukan Tabuk dengan kekayaan pribadinya. Rasulullah SAW sampai bersabda bahwa tidak ada yang membahayakan Utsman setelah apa yang ia lakukan hari itu. Ini menunjukkan bahwa harta yang dipersembahkan demi agama menjadi sebab keselamatan di akhirat.
Lebih dari itu, Islam mengajarkan konsep amal jariyah amal yang pahalanya terus mengalir meski seseorang telah wafat. Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi disebutkan bahwa ketika manusia meninggal, terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan. Harta yang dibelanjakan untuk membangun masjid, pesantren, sumur, atau dakwah akan menjadi saksi yang mengantarkan pemiliknya kepada surga, bahkan saat ia telah berada di alam kubur.
Akhirnya, harta bukanlah tujuan, melainkan sarana. Ia bisa menyeret ke neraka jika melahirkan kesombongan dan kelalaian, namun ia juga bisa mengantar ke surga jika menjadi alat ketaatan. Islam tidak memerintahkan kita meninggalkan dunia, tetapi menundukkannya di bawah nilai-nilai wahyu. Maka, jadikanlah harta sebagai wasilah untuk berbagi, menolong, dan menegakkan kebaikan. Karena pada akhirnya, bukan harta yang kita kumpulkan yang menyelamatkan, melainkan harta yang kita infakkan di jalan Allah.