
Ilustrasi foto shalat tarawih
Terasmuslim.com - Shalat tarawih merupakan ibadah malam yang identik dengan bulan Ramadhan. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menegakkan (qiyam) Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hadis ini menjadi dasar utama disyariatkannya qiyam Ramadhan, yang kemudian dikenal dengan istilah tarawih. Ibadah ini bukan sekadar rutinitas malam, melainkan sarana meraih ampunan dan kedekatan kepada Allah SWT.
Secara praktik, Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat malam Ramadan secara berjamaah di masjid. Dalam riwayat Aisyah binti Abu Bakar yang tercatat dalam Shahih Imam Bukhari, disebutkan bahwa Nabi SAW shalat beberapa malam bersama para sahabat, lalu pada malam berikutnya beliau tidak keluar. Ketika ditanya, beliau menjelaskan bahwa beliau khawatir shalat itu diwajibkan atas umatnya. Dari sini, para ulama memahami bahwa tarawih berjamaah adalah sunnah, namun Rasulullah SAW menjaga agar tidak memberatkan umat.
Adapun jumlah rakaat tarawih yang dicontohkan Rasulullah SAW, riwayat dari Aisyah binti Abu Bakar menyebutkan bahwa beliau tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan. Sebelas rakaat ini dipahami sebagai delapan rakaat qiyam dan tiga rakaat witir. Namun, yang ditekankan oleh para ulama bukan sekadar jumlahnya, melainkan panjang dan kekhusyukan bacaannya. Shalat Nabi SAW dikenal lama dan penuh tadabbur.
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, shalat tarawih kembali ditegakkan secara berjamaah dengan satu imam di masjid. Umar radhiyallahu ‘anhu melihat kaum Muslimin shalat sendiri-sendiri, lalu beliau menyatukan mereka di belakang satu imam dan berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bid’ah di sini adalah dalam makna bahasa (sesuatu yang baru dalam tata pelaksanaannya), bukan dalam makna syar’i, karena asal ibadahnya telah dicontohkan Rasulullah SAW.
Dari sisi waktu, tarawih dikerjakan setelah shalat Isya hingga sebelum fajar. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Muzzammil: 20 tentang anjuran qiyamullail sebagai ibadah yang berat namun penuh keutamaan. Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk menghidupkan malam dengan tilawah, doa, dan sujud panjang. Tarawih bukan sekadar menggugurkan kewajiban sosial Ramadhan, tetapi ruang munajat yang intim antara hamba dan Rabb-nya.
Akhirnya, shalat tarawih yang dicontohkan Rasulullah SAW menekankan tiga hal: keikhlasan, kekhusyukan, dan tidak memberatkan umat. Baik dilaksanakan sebelas rakaat atau lebih sebagaimana ijtihad para sahabat, ruhnya tetap sama menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan harap pahala. Inilah sunnah yang patut dijaga, agar Ramadhan tidak berlalu tanpa jejak ibadah yang mendalam di hati seorang Muslim.
TAGS : sejarah tarawih sahabat tarawih berjamaah dalil tarawih